Struktur Musikal Dan Tekstual Nyanyian Ilah Bolon Deideng Bittang Na Rondang

Analisis Struktur Musikal Dan Tekstual Nyanyian Ilah Bolon (Deideng Bittang Na Rondang) Pada Masyarakat Simalungun Oleh Lamtulus Parulian Saragih


Pada zaman dahulu lagu ini dinyanyikan dalam acara pertunjukan rakyat Simalungun, dimana dalam kegiatan tersebut masyarakat berkumpul dihalaman rumah khususnya muda-mudi untuk mengucap syukur atas hasil panen yang melimpah. 

Hasil yang dicapai dalam penulisan karya ilmiah ini ialah penulis ingin mengangkat kembali tradisi rakyat yang semakin hari semakin hilang. 

Diharapkan dengan diangkatnya karya ilmiah ini dapat membantu masyarakat Simalungun dalam menjaga kebudayaan yang dimilikinya. 

struktur musikal dan tekstual nyanyian ilah bolon deideng bittang na rondang


Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana penulis mencari data-data pendukung seperti artikel, jurnal, buku dalam membantu penulis untuk lebih memahami topik bahasan, kemudian penulis terjun kelapangan dalam mencari data primer dengan menjumpai narasumber untuk melakukan wawancara dalam mengambil data yang relevan dan metode weighted scale untuk memahami penulisan transkripsi yang telah penulis buat. 

Penelitian ini menggunakan teori semiotika dimana penulis mencari makna-makna yang terkandung dalam lagu yang bertemakan orang tua dan anak.

Bentuk Teks Nyanyian Deideng Bittang Na Rondang

Nyanyian Deideng Bittang Na Rondang merupakan salah satu lagu rakyat Simalungun yang hingga saat ini masih sering dinyanyikan dalam acara pesta adat dan sudah ada beberapa versi yang di aransemen kembali oleh seniman-seniman Simalungun. 

Selain itu nyanyian Deideng Bittang Na Rondang juga merupakan salah satu nyanyian untuk hiburan dalam upacara adat Simalungun, lirik nyanyian Deideng Bittang Na Rondang berbentuk syair pantun yang dinyanyikan sesuai keinginan pembuat acara sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan pencipta. 
Pantun adalah bentuk puisi yang terdiri dari empat baris yang bersajak (ab-a-b), tiap lirik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja, sedangkan pada baris ketiga dan keempat merupakan isi; peribahasa sindiran. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1016), semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. 

Teks nyanyian Deideng Bittang Na Rondang juga digolongkan sebagai teks yang bersifat melismatik. Melismatik berarti satu suku kata dapat dinyanyikan dengan beberapa nada. Dalam teks nyanyian Deideng Bittang Na Rondang ditemukan beberapa suku kata yang dinyanyikan dengan beberapa nada.
Dalam hal ini, penulis mengkaji teks nyanyian Deideng Bittang Na Rondang yang disajikan oleh Sapna Sitepu dan diperdengarkan pada acara pesta adat Simalungun. Kajian ini menggunakan teori Semiotika yang meletakkan lambang sebagai bagian dari komunikasi. Komunikasi dari lambang-lambang tersebut dapat mengandung makna-makna tetentu. Makna-makna tersebut digunakan untuk menyampaikan suatu pesan terhadap yang mendengarkannya.

Analisis Tekstual Nyanyian Deideng Bittang Na Rondang

Teks nyanyian Deideng Bittang Na Rondang merupakan bahasa tradisional (bahasa lisan) Simalungun yang mengandung nilai-nilai muatan kebudayaan masyarakat Simalungun. Menganalisis teks nyanyian Deideng Bittang Na Rondang berarti penulis mencari tau dan menemukan makna-makna yang terkandung dari teks nyanyian Deideng Bittang Na Rondang tersebut. 

Alan P.Merriam (1964:188) mengemukakan bahwa nyanyian merupakan serangkaian teks yang terintegrasi ke dalam musik, dapat dijadikan menjadi salah satu sumber untuk memahami perilaku sosial suatu masyarakat. Dengan demikian, teks nyanyian bukan merupakan serangkaian teks biasa tetapi mengandung pesan tertentu. 

Teks nyanyian Deideng Bittang Na Rondang berupa kalimat atau syair yang berisikan harapan masyarakat yang melakukan kegiatan Marilah dan mengandung pesan tertentu yang disampaikan oleh orang yang menyanyikan nyanyian Deideng Bittang Na Rondang pada masyarakat yang hadir dalam kegiatan Marilah. Harapan tersebut disampaikan dalam lirik yang berupa syair pantun.

Deideng bittang narondang on, o bittang na rondang on
Deideng bittang narondang on, o bittang na rondang on
Suttabi ni balunjei
Rerak sihala bolon
Suttabi bani umbei
Jelak naso tarhorom
Deideng bittang narondang on, o bittang na rondang on
Deideng bittang narondang on, o bittang na rondang on
Nasuan ma timbahou
Dua gattang sadari
Na ubah ma parlahou
Ulang songon sapari
Deideng bittang narondang on, o bittang na rondang on
Deideng bittang narondang on, o bittang na rondang on
Ijon pe dong loging
Boras sabur-saburan
Ijon hita mandoding
Horas hita ganupan

Pada bait pertama nyanyian Deideng Bittang Na Rondang, teksnya dapat diterjemahkan sebagai berikut Deideng bittang narondang on o bittang na rondang on. Deideng bittang narondang on o bittang na rondang on (Bintang yang terang, Ohhhh bintang yang terang). 

Kalimat ini merupakan bentuk sampiran dari bait pantun pertama yang selalu menjadi kalimat pembuka disetiap nyanyian Deideng Bittang Na Rondang.
 
Kalimat ini mengindikasikan bahwa nyanyian ini dipertunjukkan pada malam hari. Hubungan antara Signifier dengan signified sangat jelas terlihat pada teks ini. Perhatikan penggunaan kata bittang na rondang (Bintang yang terang). Bintang yang terang akan terlihat pada malam hari.
Kalimat selanjutnya Suttabi ni balunjei rerak Sihala bolon. Suttabi bani umbei jelak Naso tarhorom (Permisi kepada yang terhormat karena kami tidak bisa menahan tawa). 

Kalimat ini mengandung arti bahwa masyarakat Simalungun yang hendak berpantun dalam kegiatan Marilah itu meminta izin kepada seluruh masyarakat desa apabila dalam penyampaian pantun terdapat kalimat-kalimat yang tidak berkenan di hati. Hal ini dikarenakan kegiatan Marilah dianggap hanyalah sebuah ekspresi hiburan dan sukacita semata tanpa bermaksud saling menyinggung perasaan antar masyarakat desa tersebut. Kalimat ini mengisyaratkan nilai sosial masyarakat Simalungun yang saling menghargai satu sama lain.

Pada bait berikutnya terdapat kalimat Nasuan ma timbahou Dua gattang sadari (kita ubahlah kelakuan dan sikap kita, jangan seperti dulu lagi).

Kalimat ini berupa nasihat yang mengajak seluruh masyarat di desa tersebut untuk merubah sikap yang buruk serta memiliki cara berpikir yang lebih baik demi membangun kehidupan yang lebih baik lagi. 
Dampak dari perubahan sikap ini diharapkan dapat membangun interaksi yang baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhannya. Pada teks berikutnya terdapat kalimat Ijon pe dong loging Boras sabursaburan. 

Ijon hita mandoding Horas hita ganupan , yang artinya (Disini kita bernyanyi, di berkatilah kita semua). Kalimat ini mengandung doa oleh penyair pantun supaya denga adanya nasihat-nasihat yang disampaikan melalui syair tersebut dan apabila mendapat perhatian yang baik oleh pendengar maka mereka pasti akan diberkati dalam kehidupannya.

Teks yang ada dalam syair atau pantun nyanyian Deideng Bittang Na Rondang ini bersifat tidak baku dalam setiap penyajiannya dan dapat di ubahubah sesuai kebutuhan acara. Secara struktural, seluruh teks nyanyian Deideng Bittang Na Rondang terdiri dari 5 bait syair atau pantun yang memiliki akhiran rima A-B-A-B di penghujung pengucapan pantun tersebut. 

Teks yang dilantunkan pun disajikan dengan menggunakan melodi yang terdiri dari delapan unsur musik seperti ; tangga nada, wilayah nada, nada dasar, formula melodi, interval, nada, dan kontur. Seluruh teks nyanyian Deideng Bittang Na Rondang tersebut kemudian disajikan dengan penuh penghayatan.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada setiap bagian-bagian bab yang sebelumnya, maka penulis berpendapat untuk membuat sebuah kesimpulan dari pembahasan dan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis. 

Keberadaan nyanyian Deideng Bittang Na Rondang dalam kebudayaan Simalungun sudah sangat lama dikenal, dan sering dipakai dalam setiap acaraacara pesta adat Simalungun. Dimana dalam setiap penyajiannya nyanyian Deideng Bittang Na Rondang ini selalu di pakai dalam memberikan suatu wejangan atau nasihat kepada anaknya. 

Lagu ini berisikan syair-syair pantun dimana syair yang dinyanyikan bersifat keagungan dan penuh pengharapan. Seiring berjalannya waktu dan masuk nya kebudayaan-kebudayaan luar ke dalam masyarakat Simalungun membuat kesenian-kesenian lokal dimasa sekarang ini sudah jarang sekali terlihat. Nyanyian Deideng Bittang Na Rondang ini dibawakan dalam acara-acara pesta adat Simalungun sebagai suatu wadah untuk menyampaikan isi hati dan keinginan orang tua. 

Teks nyanyian Deideng Bittang Na Rondang berupa kalimat atau syair yang berisikan harapan masyarakat yang melakukan kegiatan Marilah dan mengandung pesan tertentu yang disampaikan oleh orang yang menyanyikan nyanyian Deideng Bittang Na Rondang pada masyarakat yang hadir dalam kegiatan Marilah. Harapan tersebut disampaikan dalam lirik yang berupa syair pantun.

Dari sisi musikal menunjukkan bahwa pada nyanyian Deideng Bittang Na Rondang, penulis memperoleh nada dasar E dan tempo 72 (andante). Dalam penyajiannya, interval yang paling banyak digunakan pada nyanyian Deideng Bittang Na Rondang ialah interval sekunda mayor (2M) 40 kali, prime perfect (1P) dengan jumlah 35 kali, dan terts minor (3m) 14 kali. Sedangkan jumlah interval paling sedikit ialah kwart perfect (4P) 5 kali. Dengan demikian, 1P, 2M, 3m, dan 4P mempunyai peranan penting dalam membentuk nyanyian Deideng Bittang Na Rondang.

Bagikan:

Posting Komentar

Top Ads

Middle Ads 1

Bottom Ads