Lirik Lagu Batak PakPak Dairi “Tirismo Ale Bangkuang”

Lagu ‘Dendang Etnik Sumatera Utara’


Tiris mo lae bangkuang 
Ale sumbirangken, Mo pancur si sada
Ale mariris mo, Mata si turang
Ale mangidah aku mo, Merbaju sada
Duan dan don, ale duan dan don, duan dan don, ale duan dan don
Sinderang ko muda tetuken ngelluh mu
Ulang dak i kuta, jadi pengangguren
Mella anak muda, mbue tantangen na
Ulang mbiar .. mbiaar lako kita maju

REFF :
Mella lot halihabat menhalangi kita
Pesabar dirinta ulang mendelle
Ibain ko ngo si boy merobah dirimu
Kumerna angan-angan oda ki bai mende

Ulang lot kata-kata leja mencari
Kumerna idi karina perjuangen
Merjuang mo lako, Mendapet karina

Ndabuh si rimo mukur i tinggang rimo kejaren
Kene si ngeddang ukur kami en mahan ajaren
Tukuk galuh si leuh perduhapen dalan tinada
Tungkuk menghapus elus perbuaten si so mada
Salak ndessing mi mungkur sibande dalan mi boang
Tah ise salah ukur si daging bage terbuang
Aceh si pihir tulan mbellang tanoh mahan pilihen
Saimseh mo ate Tuhan ipedaoh mo perselisihen

lirik lagu batak pakpak dairi tirismo ale bangkuang


Sejarah  dan Makna Lagu Tirismo Ale Bangkuang (Batak Pakpak/Sidikalang)

Sejarah lagu ‘Tirismo Ale Bangkuang’ bersalah dari kisah Guru PakPak yang bapaknya terbunuh di medan perang dimana kemudian ia sangat sedih karena yang membunuh sang ayah merupakan pamannya sendiri (saudara dari ibunya yaitu Raja Sidabutar). Dan yang membuat cerita di balik lagu ini semakin menyayat hati adalah dimana bagian tubuh dari hati dan jantung dari sang ayah tersebut diambil dan dimasak untuk kemudian di persembahkan kepada kayu besar, lalu badannya dibuah ke sungai Lae Sibellen.

Selesaib melakukan persembahan dan dimakan beramai-ramai oleh para raja-raja Pakpak yang diiringi lagu “tirismo lae bengkuang sumbirangken mo pancur sisada lebbe meniris mo bapa iturang asa sautmo marjelma sada duandando duandando ale duandando” yang memiliki arti “ meneteslah air bengkuang kesampingkanlah pancur yang satu bila sudah menetes darah bapak si saying maka jadilah kita manusia bersatu, dua dua beradu kita ayo, bapaknya adalah ulubalang bangsa Pakpak sedangkan pamannya adalah ulubalang para raja-raja”.

Ia bertanya  kepada pamannya mengapa ayahnya dimakan ? jawab pamannya, hal tersebut merupakan adat yang harus di taati dan tidak boleh di rubah, karena kelak kamu juga seperti itu.

Lalu kemudian dia mencari Tuhan dan ingin bertanya kepada Tuhan. Mengapa ayahnya dimakan? Kesemua pohon kayu besar di gunung, di batu dan bebatuan, di sungai dan segala tempat.
Pencarian itu akhirnya berakhir kala ia mendengar suara di pundaknya dimana ia disuruh berdoa dan meminta ampun kepada Tuhan, karena suatu waktu Tuhan akan menghancurkan tempat tersebut, dikarenakan tindakan manusia yang sudah keterlaluan. Seperti memakan manusia, ritual-ritual dan sebagainya.

Kemudian suara bergemuruh dating, bumi berguncang, asap tebal dan hari gelap gulita selama 7 hari-7 malam. Gunung Krakatau meletus di selat Sunda dan satu bukit bergoyang kencang, bergeser sejauh 7Km di PakPak (DAIRI), dan dinamakan Delleng Mampar dan bekas gunung tersebut dinamakan Danau Lae Sigabah.

Dengan datangnya segala bencana serta hilangnya sebagian besar suku PakPak yang kemudian membuat ia diangkat menjadi seorang bernama Guru PakPak (Mpung Pengisi Ladang/Penguasa segala Jin).


Bagikan:

Posting Komentar

Top Ads

Middle Ads 1

Bottom Ads