Konsep Dalihan Na Tolu Bagi Masyarakat Adat Batak Toba

Konsep Dalihan Na Tolu Bagi Masyarakat Adat Batak Toba

Dalihan Na Tolu

Pada setiap upacara adat Batak Toba baik upacara perkawinan (pernikahan), kematian, kelahiran dan berbagai upacara adat Batak Toba lainnya, Dalihan Na Tolu merupakan hal yang akan dijunjung tinggi dan dihargai.

konsep dalihan na tolu bagi masyarakat adat batak toba


T.M. Sihombing (2000:71) memberikan pengetian bahwa :
Dalihan Na Tolu yang juga disebut Dalihan Nan Tungku Tiga (artinya: Tungku Nan Tiga) adalah suatu ungkapan yang menyatakan suatu hubungan kekeluargaan pada suku Batak.
Suatu tungku terdiri dari tiga buah batu yang membentuk kesatuan atau tritunggal. Hal inilah yang menjadi kesamaan bentuk kesatuan tri tunggal pada suku Batak yang terdiri dari tiga unsur hubungan kekeluargaan.

Ada banyak tritunggal yang mungkin derajatnya lebih tinggi dari Dalihan Na Tolu, diantaranya Banua Na Tolu (Benua Nan Tiga), Bonang Manalu (Benang Nan tiga). 

Namun diantara itu semua, dalam Dalihan Na Tolu ada beberapa persamaan (analogi) yang tidak dijumpai pada tritunggal-tritunggal yang lain. 

dalihan na tolu


Analogi dalam Filsafat Batak Dalihan Na Tolu 

Pertama: filsafat Batak mengenai dalihan (tungku) berbunyi :
Si dua uli songon na mangkaol dalihan, Masak sipanganon huhut malum na ngalian.
Artinya : memeluk (mempergunakan) tungku memberi dua keuntungan, yakni makanan yang dimasak akan menjadi matang lalu kemudian kehangatan yang dihasilakan dari pembakaran membuat perasaan dingin hilang.

Jadi Dalihan Na Tolu memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari orang Batak,  dari awal lahir hingga sampai akhir hayatnya. 

Dalihan Na Tolu merupakan dasar filsafat atau fundasi (dasar) yang kukuh bagi hubungan sosialnya dan dalam social interrelasi (hubungan biasa dan hubungan kekeluargaan) orang Batak. Bedasarkan Dalihan Na Tolu-lah orang Batak dapat menentukan status, fungsi dan sikap sosialnya. (T.M. Sihombing, 2000:71)

Kedua : Pada prakteknya terkadang ketiga batu dalihan tersebut tidak sama ukurannya sehingga apabila diletakkan periuk atau alat masak yang berukurran lebih kecil maka kedudukannya tidak dapat disanggah oleh ketiga batu tersebut. untuk mengatasi ini, digunakanlah batu atau benda lain sebagai untuk mengganjal. Batu tambahan itu dalam istilah Batak disebut Sihal-sihal. 

Filsafat Batak tentang Sihal-sihal itu berbunyi:

Nipis hansing-hansing, i do na patoguhon 
Metmet sihal-sihal, i do na patukkon.
Artinya : walaupun sihal-sihal itu kecil namun jasanya sangat besar karena dialah yang memperbaiki atau melengkapi kekurangan dalihan didalam mejjalankan fungsinya dengan baik.

Hal serupa juga terdapat dalam Dalihan Na Tolu dimana tidak semua orang memiliki hubungan kekeluargaan dengan kita. 

Untuk mengatasi hal ini, para lelehur Batak membuat aturan tambahan yang melengkapi Dalihan Na Tolu yaitu dengan adanya sihal-sihal tersebut sehingga orang-orang yang tidak ada hubungan kekeluargaan secara langsung dengan kita dapat ditentukan kedudukannya melalui konsepan Dalihan Na Tolu tersebut. (T.M. Sihombing, 2000:72)

Ketiga : Ketiga batu dalihan tersebut menopang periuk atau alat masak yang lain dengan baik dan penuh keseimbangan, hal ini menjaga agar isi periuk tersebut tidak tumpah. Demikian juga dengan Dalihan Na Tolu yang menopang masyarakat Batak dengan sempurna serta dalam keseimbangan yang benar-benar ideal. (T.M. Sihombing, 2000:74)

Dari penjelasan yang teman-teman sibatakjalanjalan dapat baca, bahwa begitu baiknya peranan Dalihan Na Tolu dalam kehidupan orang Batak yang apabila dijunjung tinggi menciptakan keharmonisan tersendiri bagi orang Batak. 

Dalihan Na Tolu dapat diuraikan sebagai berikut: somba marhulahula, elek marboru, manat mardongan tubu.

Somba Marhula-hula

Hula-hula merupakan keluarga laki-laki dari pihak perempuan atau istri yang biasanya disebut tulang (paman) oleh anak selain itu ada bona tulang (paman ayah), bona ni ari (paman nenek) dan tulang rorobot (paman istri). Dalam hal ini hula-hula atau keluarga pihak perempuan haruslah di hormati, karena mereka sudah mau memberikan putri mereka yang berharga sebagai istri yang akan memberikan keturunan kepada satu marga. (Bertha T. Pardede, dkk, 1981:8)

Hula-hula mempunyai fungsi dan kedudukan yang tertinggi dalam tata krama kehidupan masyarakat Batak Toba. Seperti umpasa (perumpamaan) orang Batak Toba yang berbunyi :
Hula-hula i do debata na tarida
Artinya: hula-hula adalah dewata yang nampak. 

Debata dalam hal ini bukanlah berarti Allah namun lebih mengacu pada kuasa gaib dan misterius. Maksud dari perumpamaan ini adalah berkat dan doa restu hula-hula berpengaruh besar atas penghidupan kita. Hal ini telah mendarah daging bagi orang Batak yang menyebabkan orang Batak selalu menghormati hula-hulanya.

Ini berarti bahwa dalam kehidupan upacara adat hula-hula harus didengar. Untuk dapat memedomani hal itu, dalam masyarakat dikembangkan paham somba marhula-hula, artinya menaruh hormat terhadap hula-hula. Hula-hula merupakan mata ni ari binsar dan pangalapan ni pasu-pasu. Artinya adalah bahwa hula-hula merupakan sumber terang dan kebahagiaan serta sumber berkat. (Bertha T. Pardede, dkk, 1981:9)

Elek Marboru

Boru merupakan keluarga pihak laki-laki yang mengambil perempuan sebagai istri. Dalam hal ini, pihak boru berkedudukan atau berfungsi sebagai pembantu utama bagi hula-hula, baik yang menyangkut materi maupun tenaga. Dalam kaitan ini dikenal ungkapan bagi orang batak yang berbunyi : 
Durung do boru, tomburan hula-hula. 
Artinya adalah bahwa boru yang mengumpulkan ikan, hula-hula mengumpulkan. Maksudnya adalah bahwa boru berkewajiban membantu hula-hula membiayai upacara adat. (T. M. Sihombing, 2000:78)

Selain darpada itu ada pula filsafat Batak yang berbunyi:
Bungkulan do boru
Artinya: boru itu adalah bubungan (maksudnya bubungan rumah), filsafat ini mengartikan bahwa kalau ada perselisihan yang terjadi diantara hula-hula maka boru-lah yang berkewajiban menghilangkan keretakan itu agar mereka yang berselisih itu kembali kompak dan bersatu, serupa dengan balok bubungan rumah yang mengikat dan mempersatukan kedua belah atap rumah. Karena begitu banyak peran yang dilakoni oleh boru, sebagai akibatnya boru biasanya bersifat manja kepada hula-hula dan pihak hula-hula sedapatnya melayaninya.

Dinasehatkan kepada anggota masyarakat Batak Toba agar elek marboru yang artinya membujuk terhadap boru. (T.M. Sihombing, 2000:77)


Manat Mardongan Tubu

Dongan tubu merupakan sekumpulan masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga dalam Batak Toba terdiri dari puluhan bahkan ratusan marga induk. 

Dalam hal ini, marga dapat memecah berdasarkan peringkatnya namun orang Batak tidak menjadikan hal ini sebagai suatu sistem kasta karena ketika berkumpul dalam sebuah upacara adat, maka marga-marga tersebut akan bersatu dan memiliki kedudukan yang sama. 

Misalnya, Si Tolu Sada Ina yang terdiri dari marga Siahaan, Simanjuntak (Mardauk, Sitombuk, dan hutabulu) dan Hutagaol atau Toga Sihombing yang terdiri dari marga Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit.

Hubungan yang tercipta diantara marga-marga yang berada dalam satu rumpun tesebut ialah hubungan abang-adik yang ketika marga A melaksanakan upacara adat, maka yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga yang serumpun dengan marga A tersebut. sehingga ungkapan orang Batak yang mengatakan Manat mardonga tubu artinya harus teliti, pelan, hati-hati terhadap dongan tubu karena dongan tubu memilki peranan yang penting dalam kehidupan adat orang Batak. (Bertha T. Pardede, dkk, 1981:9)

Berdasarkan kedudukan dan fungsi unsur Dalihan Na Tolu, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, maka nyatalah hubungan dan tanggung jawab diantara unsur Dalihan Na Tolu yang dilandasi falsafah Batak Toba yaitu somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu. 

Kalau landasan hubungan ini dipelihara dengan baik , akan terwujudlah fungsi hula-hula sebagai pangalapan pasu-pasu, dongan tubu pangalapan sangap,dan boru pangalapan gogo. (Bertha T. Pardede, dkk, 1981:9)

Referensi :
Simanjuntak, Yusan Elpriani. 2017. Persepsi Masyarakat Batak Toba Terhadap Perkawinan Semarga Dalam Adat Suku Batak Toba Di Bahal Gajah Sidamanik Simalungun Sumatera Utara. Bandar Lampung. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung


Posting Komentar

0 Komentar