Pesiapan Sebelum Melakukan Pesta Horja

Pesiapan Sebelum Melakukan Pesta Horja

Hal-hal yang Dilakukan Sebelum dan pada Pesta Horja


Memanggil Pargonsi untuk Pesta Horja

Memanggil Pargonsi adalah unsur utama sebelum pesta Horja dimulai. 

Menghormati dan menghargai adalah unsur yang terdapat dalam adat Dalihan Na Tolu
Masyarakat Batak Toba selalu mengaplikasikan adat Dalihan Na Tolu dalam kehidupan sosial bermasyarakat. 

Memanggil Pargonsi ini adalah salah satu bentuk penghormatan dan penghargaan kepada pemain musik sebagai pendukung terselenggaranya pesta. 

Dalam kepercayaan masyarakat Batak Toba, Pargonsi disebut sebagai Batara Guru (dianggap Dewa) dan berhubungan langsung dengan Tuhan (Debata Mula Jadi Na Bolon).

Sebelum pesta Horja diadakan, terlebih dahulu pihak hasuhuton (pelaksana pesta Horja) sebagai tuan rumah mengadakan musyawarah untuk membicarakan hal-hal yang dibutuhkan dalam melaksanakan Pesta Horja nantinya. Salah satunya adalah memanggil Pargonsi

gondang sabangunan


Pihak hasuhuton yang memanggil Pargonsi dengan membawa “napuran tiar untuk melakukan pangelekan” (sirih dengan isinya sebagai permohonan dengan membujuk pargonsi supaya mau memenuhi panggilan hasuhuton) untuk mengiringi tortor dengan memainkan musik Gondang Sabangunan

Seperti halnya adalah saat menjumpai pemain sarune (parsarune) yang merupakan bagian dari Pargonsi, kemudian pemain musik ensambel gondang dalam tradisi Batak Toba (partaganing) lalu kemudian memanggil teman-temannya yang lain. 

Meskipun secara utuh pemberian napuran tiar (sirih bersama sejumlah uang) untuk melakukan pangelekan (membujuk) ini tidak selalu sesuai dengan tradisi kepercayaan orang Batak lama, bisa berubah namun tetap bahwa tujuannya adalah sama yaitu membujuk pargonsi supaya mau memainkan musiknya pada saat pelaksanaan pesta. 

Contohnya adalah apabila keluarga yang bersangkutan telah banyak menganut agama Kristen, maka perlakuan terhadap Pargonsi ini dilakukan seijin gereja dengan hanya memberikan napuran tiar sebagai tanda penghormatan kepada pargonsi.

Hal ini disebabkan karena peraturan gereja yang terdapat dalam “The Order of Dicipline of Church” (Pengawasan Peraturan dalam Gereja [Protestan]), yang salah satu larangannya adalah tidak boleh memberi buah pinang dan daging pada saat memanggil pargonsi sesuai dengan cara pra-Kristen (Purba, 1998: 282).

Tujuan memberikan napuran tiar ini kepada pargonsi adalah supaya pemain musik itu baik dalam memainkan musiknya, kemudian dilakukan dengan benar dan penuh semangat. 

Hasuhuton yang menyelenggarakan pesta Horja ini pun tentu akan merasa bahwa tujuan yang mereka harapkan akan tercapai melalui musik yang dibawakan pargonsi.


Adat Tu Pargonsi

Sebelum pesta Horja dimulai, beberapa hari sebelumnya pargonsi datang ke tempat diselenggarakannya pesta, di tempat pargonsi dibangun sebuah pentas di sebelah kanan rumah hasuhuton siampudan (penyelenggaraan pesta dari keturunan anak yang paling kecil dari yang dipestakan yaitu anak siampudan (anak paling bungsu) tempat diselenggarakannya pesta Horja itu. Biasanya Pargonsi ditempatkan di bonggar-bonggar ni ruma.

Pada pesta Horja ini adat yang dilaksanakan kepada pargonsi adalah dengan memberikan napuran tiar (sirih yang lengkap) sebagai pangelekan (membujuk) pargonsi mau melaksanakan tugasnya baik meskipun pargonsi dibayar untuk itu. 

Atau di panca-panca ni sopo yang berpesta sudah ada pada setiap rumah adat tradisional Batak Toba
Namun apabila pihak hasuhuton yang berpesta sudah tidak memiliki rumah adat tradisional di sekitar lokasi pesta, maka dari itu dibuatlah pentas dari kayu yang dibangun kira-kira satu meter lebih tingginya. 

Tujuannya juga supaya pargonsi dapat melihat seluruh yang hadir pada pesta dan dapat melihat orang-orang yang manortor (menari). 

Pada pesta Horja ini adat yang dilaksanakan kepada pargonsi adalah dengan memberikan napuran tiar (sirih yang lengkap) sebagai pangelekan (membujuk) pargonsi mau melaksanakan tugasnya baik meskipun pargonsi dibayar untuk itu.

Tradisi lama bagi masyarakat Batak Toba masih mengadakan upacara untuk panangkok pargonsi (mengantar pargonsi naik ke tempat mereka memainkan musiknya). 

Upacara itu adalah pemberian pinggan sapa panungkunan yang dilakukan pihak hasuhuton kepada pargonsi. 

arsitektur rumah batak toba


Pinggan panukkunan tersebut ialah piring berisi napuran tiar (sirih lengkap dengan isinya), boras sakti (beras), Ruma adalah bentuk rumah tradisional Batak Toba yang memiliki ukiran-ukiran yang menggambarkan budaya Batak Toba (Gorga), sedangkan sopo adalah rumah tradisional Batak Toba yang tidak memiliki ukiran. 

Tempat pargonsi pada ruma adalah bonggar-bonggar dan tempat pargonsi pada sopo adalah panca-panca. gambiri (kemiri), tolor ni manuk (telur ayam), gundur (semangka), ansimun (mentimun) dan ringgit sitio soara (uang). 

Napuran tiar mengandung makna mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Menciptakan Langit dan Bumi (mandok mauliate tu Amanta Debata), boras sakti bermakna segala sesuatu yang dikerjakan berhasil dengan baik (gabe naniula), gambiri melambangkan kemakmuran (marmiak), tolor ni manuk diberikan kepada raja (pengulu balang), gundur mempunyai makna untuk keseluruhan segala penyakit (pamalumi), ansimun berarti penyejuk hati (pangalamboki), ringgit sitio soara berarti segala perkataan yang dipergunakan dalam upacara supaya sopan dan berkharisma. 

Setelah itu pargonsi akan menanyakan hasuhuton, upacara atau pesta apa yang akan dilaksanakan, kemudian hasuhuton menjelaskan secara rinci hal-hal yang akan dilakukan selama pesta berlangsung. 

Namun pada beberapa pesta Horja tradisi lama yang disebutkan di atas tidak melulu dilakukan lagi secara utuh, karena tentu dengan seiring perkembangan zaman dan keberadaan agama baru yang dianut, ada beberapa keluarga yang bersangkutan (hasuhuton) sudah menganut ajaran agama yang melarang hal tersebut.

Pada akhir acara pesta Horja ini hasuhuton hanya memberikan napuran tiar (sirih yang melambangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pesta sudah berhasil dan berjalan baik tanpa kurang suatu apapun).


Maniti Ari dalam Pesta Horja

Maniti ari adalah acara untuk menentukan waktu penyelenggaraan pesta Horja.

Hasuhuton melihat dari kesediaan semua keturunan keluarga besar Ompu yang akan melakukan pesta Horja ini. 

Kegiatan Pesta Horja biasanya sudah dirancang jauh-jauh hari, tujuannya supaya seluruh keturunannya dapat mengumpulkan uang untuk pulang kampung dan mengumpulkan toktok ripe (partisipasi dana dari setiap masing-masing keluarga dan besarnya ditentukan dalam rapat musyawarah oleh keluarga yang tinggal di kampung dan yang ada di perantauan).

Melihat dari segi penanggalan masyarakat Batak bahwa penanggalan ganjil itu merupakan penanggalan yang baik, contohnya pesta Horja ini dilangsungkan dari tanggal 7 Juli 2011 sampai dengan 10 Juli 2011 . Lalu kemudian menentukan tempat.
 

Tortor yang Disajikan Pada Saat Penyelenggaraan Pesta Horja

Tortor yang disajikan atau dilakukan pada saat pesta Horja pada umumnya adalah tortor Sipitu Gondang, yang terdiri dari : 
  1. Tortor Mula-mula
  2. Tortor Somba
  3. Tortor Mangaliat/Siuk-siuk
  4. Tortor Sampur Marorot/Sampur Marmeme
  5. Tortor Sibane-bane
  6. Tortor Simonang-monang
  7. Tortor Hasahatan/Sitiotio.


Dalam pesta Horja, aktivitas manortor diiringi Gondang Sabangunan. Karena kegiatan ini merupakan upacara adat yang terdapat dalam kehidupan masyarakat Batak Toba.

Secara keseluruhan Tortor Sipitu Gondang dalam pesta Horja ini senantiasa diiringi Gondang Sabangunan karena kegiatan ini merupakan upacara adat yang harus dilaksanakan secara adat. 

Untuk mengawali acara Pesta Horja, tuan rumah (hasuhuton) mengadakan acara Mangido tuani gondang dan menarikan Tortor Sipitu Gondang tersebut. 

Setelah itu, hasuhuton (tuan rumah) balik kanan (membelakangi rumah hasuhuton) untuk hadir dalam acara tersebut. 

Setelah hula-hula datang menjumpai hasuhuton sambil manortor membawa ulos dan uang yang diselipkan di sebatang bambu dan disambut hasuhuton sesuai dengan hula-hulanya masing-masing.

Kemudian setelah sampai tempat, ulos dan uang tadi diserahkan kepada boru ni hasuhuton (pihak boru dari tuan rumah). 

Setelah itu dimulailah maminta gondang, oleh hula-hula yang datang lalu dimulailah acara panortorion.
Dimulai dari Tortor Mula-mula, Tortor Somba, Tortor Mangaliat, Tortor Sibane-bane, Tortor Saudara/Parsaoran, Tortor Simonang-monang dan Tortor Hasahatan Sitio-tio.

Tortor mula-mula diiringi gondang mula-mula, tortor somba diiringi gondang somba, tortor mangaliat diiringi gondang mangaliat/liat-liat, tortor sampur marorot/sampur marmeme diiringi gondang sampur marorot/gondang sampur marmeme, tortor sibane-bane diiringi gondang sibanebane, tortor simonang-monang diiringi gondang simonang-monang dan tortor hasahatan/sitiotio diiringi gondang hasahatan sitio-tio.

Biasanya bila banyak waktu, tamu yang manortor akan meminta gondang di tengah-tengah atau sebelum hasahatan sitiotio, berupa tortor hiburan misalnya tortor husip-husip yang diiringi gondang husip-husip ataupun tortor yang lainnya yang sifatnya hiburan.


Penentuan Judul Tortor dan Hubungannya Dengan Pihak yang Manortor

Aktivitas tortor dilakukan sesuai dengan sistem kekerabatan dalam unsur Dalihan Na Tolu. 

Hari pertama tortor hasuhuton bolon mengawali acara dalam mambuat tuani gondang adalah tortor yang dilakukan oleh pihak penyelenggara pesta. 

Kemudian tortor yang dilakukan suhut paidua (keturunan dari Ompu yang bersangkutan) yang merupakan saudara sekandung dari Ompu bersangkutan. 

Berikutnya adalah manortor panambolo dohot sijalosoit.
Manortor bonaniari 
Manortor hula-hula ninahinorjahon yaitu Bona tulang dan Bonaniari. Ditutup dengan tortor hasuhuton bolon.

Hari kedua pagi harinya Mambuat Tuani Gondang keluarga Hasuhuton Bolon.

Kemudian manortor semua urutan keturunan dari anak paling besar sampai yang paling bungsu. 

Dipanggillah semua hula-hula dari anak dan cucu yang dipestakan. 

Kemudian yang terakhir adalah tortor hasuhuton. 

Hari ketiga diawali dengan tortor hasuhuton (mambuat tuani gondang). 

Dilanjutkan manortor hahaanggi suhut paidua (saudara dari abang/adik dari yang dipestakan). 

Kemudian manortor panamboli/Sijalosoit, hula-hula nasonaro. Manortor boruni Suhut apidua (bere, ibebere), manortor ale-ale dohot huria

Manortor Muspida, kemudian Manortor Boru ni Hasuhuton Bolon, Boru dohot ibebere.

Manortor Partuaek/Naposo Bulung (muda-mudi), kemudian manortor Haha anggi dohot Harajaon (saudara abang adik dan pengetua adat). Kemudian manortor Bonani ari nami, ditutup manortor Suhut (Panakkok Tuani Gondang).

Secara keseluruhan tortor yang disajikan adalah tortor Sipitu gondang dari tortor mula-mula, tortor somba, tortor mangaliat/siuk-siuk, tortor sampur marorot/samput marmeme, tortor sibane-bane, tortor simonangmonang, tortor hasahatan/sitiotio.


Urutan Artikel Lengkap Tortor Dalam Pesta Horja :

Sumber/Referensi : 
SINAGA, Sannur D.F. 2012. Tortor Dalam Pesta Horja Pada Kehidupan Masyarakat Batak Toba: Suatu Kajian Struktur Dan Makna. Medan. Program Studi Magister (S2) Penciptaan Dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara; MEDAN

Posting Komentar

0 Komentar