Semua Hal yang perlu Kamu ketahui tentang Suku Bangsa Batak dan Kenapa Kamu Harus Menjadi Batak

Suku Batak


Suku Batak adalah salah satu suku terbesar di Indonesia. Tersebar dari Sabang hingga Merauke, dari Sabang hingga pulau Rote

Teman-teman bisa menemukan seseorang yang dengan bangga menyebut dirinya “Orang Batak”, dimana hal ini berarti orang tersebut memiliki garis keturunan/genealogi dan ataupun adanya hubungan sosiologis yang membuat orang tersebut memiliki keterikatan  kerabat dengan suku Bangsa Batak.
 


gadis suku bangsa batak yang sedang menari tortor
Gadis Batak Menari Tortor, Sumber gambar : Pinterest.com

Beberapa karya dengan tema suku Batak.


1.      Gondang Batak
Gondang Batak atau Gondang. Berupa sekumpulan gendang yang teman-teman sibatakjalanjalan dapat perhatikan terdiri dari Sarune, Taganing, Hasapi, Garantung, Ogung, Hesek, Suling dan beberapa alat musik lain yang biasa hadir dalam kegiatan upacara adat Batak Toba . 

Gondang juga dimaknai sebagai sarana/penghubung antara orang dengan suku Batak Toba dengan Tuhan, dalam suatu agama yang disebut sebagai penganut Parmalim/Malim. Parmalim sesungguhnya adalah agama asli dari suku Batak.

Namun dalam perkembangan zaman pada masa kini, kehadiran Gondang tidak dilupakan, melainkan semakin dilestarikan dalam upacara, adat, ritual keagamaan, hiburan dan ungkapan penyampaian doa bagi Sang Pencipta.

Ragam dari penggunaan Gondang kemudian menghasilkan ragam makna pula, tergantung pada konteks dari acara maupun kegiatan yang sedang dan akan dilakukan.



2.      Gorga
gorga batak jenis salah satu seni pahat dan ukir budaya batak

Gorga adalah salah satu seni pahat dan ukir dari tanah Batak, Sumber gambar : Pinterest.com

Dikenal juga dengan Gorga Batak Toba. Gorga adalah suatu karya seni ukir atau seni pahat dan ataupun keduanya. 

Gorga Batak Toba biasanya dapat dengan mudah teman-teman pembaca SibatakJalanJalan.com temukan pada bagian luar rumah /eksterior dari rumah adat Batak Toba (Rumah Bolon), namun tidak menutup kemungkinan bahwa teman-teman akan menemui Gorga yang merupakan karya seni ukir dan pahat ini dalam bagian dalam rumah/interior . 

Tidak hanya terbatas pada hiasan rumah saja, Gorga Batak Toba juga dapat ditemui pada alat-alat kesenian adat Batak Toba. Seperti Taganing, Sarune/serunai, Ogung, dan lain sebagainya.
 
rumah bolon adalah rumah adat Batak
Rumah Bolon dan hiasan Gorga Batak Toba, Sumber gambar : Pinterest.com

Gorga Batak atau disebut Gorga, pada masyarakat umum dikenali sebagai corak maupun motif.
Untuk menghasilkan karya seni Gorga Batak Toba dilalui proses pahat dan ukir, adapun tambahannya maka dilakukan dengan teknik lukisan. Warna dasar yang digunakan adalah 3 (tiga) warna berikut : merah, hitam dan putih

Pada masa lalu, mungkin seni Gorga hanya dilakukan pada media kayu sebagai penambah dekorasi interior (dalam ruangan) dan eksterior (luar ruangan) pada umumnya. 

Namun pada masa kini media yang digunakan semakin beragam. Seperti contohnya adalah bahwa teman-teman dapat menemukan relif ini diukir dan dilukis pada media semen pada rumah-rumah adat Batak, lalu kemudian dicat dengan 3 (tiga) warna, tentunya merah, hitam dan putih




3.      Tari Tortor
Orang orang menari Tortor
Orang-orang yang sedang menari Tortor, Sumber gambar : Pinterest.com

Tortor Batak Toba pada masa kini merupakan tarian seremonial. Namun menurut runut sejarahnya maka tarian ini dapat diklasifikasikan merupakan tarian purba. 

Tarian Tortor sendiri berasal dari Batak Toba. Meliputi daerah-daerah berikut : Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Samosir dan tidak menutup daerah sekitar lainnya.

Tari Tor-tor atau menari Tor-tor biasanya dilakukan dengan iringingan Gondang . Untuk mengenal tarian purba ini maka anda akan menemukan hal-hal yang lebih dari sekedar gerakan-gerakan semata.

Penting teman-teman sibatakjalanjalan.com ketahui bahwa banyak makna yang tersaji dalam tarian tersebut. Salah satunya adalah sebuah bentuk komunikasi dalam upacara adat Batak Toba, dilakukan oleh tuan rumah atau dikenal dengan Hasuhutan kepada seluruh partisipan upacara.

Adapun nama salah satu tari Tortor yang harus dilakukan sebelum upacara adat dinyatakan secara terbuka adalah bahwa pihak Hasuhutan/tuan rumah melakukan tari Tortor yang disebut sebagai Tua ni Gondang

Dan untuk melakukan Tortor Tua ni Gondang, maka pihak Hasuhutan harus terlebih dahulu meminta kepada penabuh Gondang untuk memainkan alat musiknya. Itupun dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku juga harus dengan sopan dan santun.




4.      Ulos
Orang dan kain Ulos Batak
Orang dan Ulos Batak, Sumber gambar : Pinterest.com

Ulos atau kain Ulos merupakan salah satu busana khas budaya Batak yang menjadi kebanggan Indonesia. Adapun Ulos secara turun-temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak di Sumatera Utara.

Warna pada Kain Ulos pada umumnya memiliki warna dominan merah, hitam dan putih. Sama seperti warna dasar dari Gorga. Namun kain Ulos memiliki warna khusus tambahan, biasanya dihiasi dengan ragam warna benang emas maupun perak.

Pada masa dulu Ulos atau Kain Ulos ini dikenakan sebagai selendang maupun sarung, namun seiring perkembangan zaman membuat Kain Ulos ini semakin menarik karena dapat menjadi salah satu sovenir/buah tangan dari tanah Batak dan sekitarnya.

Dapat berupa tas, pakaian, alas meja, dasi, dompet, ikat pinggang dan bahkan sarung bantal.

Adapun penggunaan Ulos pada zaman dulu tidak hanya sekedar digunakan dalam upacara adat saja. Pemberian Ulos dapat dilakukan/diberikan kepada seorang ibu yang sedang mengandung agar senantiasa dilindungi dari mara bahaya saat proses persalinan/dipermudah pada saat melahirkan sang calon bayi ke dunia.


Suku Batak, Populasi, Kepercayaan dan Sumatera Utara
Suku Batak merupakan rumpun suku yang mendiami sebagian besar wilayah bagian Utara Sumatera.
Luas wilayah Sumatera Utara setidaknya memiliki populasi kurang lebih 8.500.000 (delapan juta lima ratus ribu) orang.  Dimana jumlah tersebut mendiami lebih kurang seluas 72.981 km2(tujuhpuluh dua ribu sembilan ratus delapan puluh satu kilometer persegi).

Untuk Kepercayaan pada umumnya orang dengan keturunan suku Batak, atau disederhanakan dengan “Orang Batak” sebagian besar menganut agama Kristen Protestan,. Sebagian lainnya menganut agama Kristen Katolik dan Islam.

Beberapa kepercayaan tradisional lainnya juga turut andil dalam bagian kecil lainnya, yaitu tradisi Malim atau dikenal juga dengan Parmalim dan kepercayaan Animisme ( adalah kepercayaan kepada makhluk halus, roh-roh dan benda-benda yang memiliki jiwa; contohnya adalah pohon, batu besar, gua dan sebagainya). Khusus untuk penganut ajaran Parmalim dan Animisme, penganut ajaran tersebut saat ini sudah mulai berkurang. 

Sebelum suku Batak Toba menganut ajaran agama Kristen Protestan, suku Batak sendiri memiliki sistem kepercayaan dan religi mengenai Mulajadi na Bolon, yang merupakan pemilik kekuasaan di atas langit dan kekuasaanNya sendiri terwujud dalam sebutan Debata Natolu.

Dalam perihal jiwa dan roh dalam suku Bangsa Batak Toba, ada 3 (tiga) konsep yang menyangkut hal tersebut. Yaitu adalah sebagai berikut :
sekumpulan orang dengan suku bangsa batak zaman dahulu
Kumpulan Orang Batak zaman dahulu, Sumber gambar : Pinterest.com

1.      Tondi/Tendi, adalah jiwa dan atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, sehingga tondi memberikan nyawa kepada manusia (suku Batak). Tondi ini sendiri, sudah dimiliki seseorang saat dalam janin/kandungan. Dan apabila tondi meninggalkan tubuh seseorang, maka orang tersebut akan sakit dan atau meninggal. Adapun hal yang kemudian dilakukan adalah dengan mengadakan upacara mangalap(menjemput) tondi dari sombaon(sesuatu) yang menawan tondi tersebut.

2.      Sahala, adalah jiwa dan atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang keturunan suku Batak memiliki tondi, tapi tidak dengan semua orang dengan keturunan suku Batak memiliki apa yang disebut dengan Sahala. Sahala atau Sumanta, yang adalah merupakan tuah dan atau kesaktian yang dimiliki para raja dan atau hula-hula suku Batak.

3.      Begu, adalah tondi dari orang Batak yang telah meninggal, yang memiliki tingkah laku yang sama dengan tingkah laku manusia. Begu sendiri hanya muncul di waktu malam.

Mungkin teman-teman pembaca SibatakJalanJalan berpikir tentang, mengapa penulis harus menjelaskan religi dan kepercayaan tradisional suku Batak
Padahal sebelumnya sudah menjelaskan agama-agama yang dianut suku Bangsa Batak pada masa kini, seperti agama Kristen Protestan, Kristen Katolik dan Islam. 

Penulis SibatakJalanJalan ingin teman-teman pembacapun mengerti, dan memahami bahwa pentingnya sejarah bagi kita (saya dan teman-teman pembaca), karena meskipun suku Bangsa Batak sudah menganut agama Kristen dan berpendidikan tinggi, namun religi atau kepercayaan dan sejarah kami adalah hal-hal yang berharga untuk dapat diketahui tidak hanya untuk kalangan suku Bangsa Batak saja, namun seluruh dunia dan manusia. Sama berharganya sebagaimana kami menjunjung tinggi Marga kami.

Ada yang menarik mengenai teori sejarah asal usul suku Bangsa Batak pada awalnya, beberapa teori yang SibatakJalanJalan.com rasa menarik, dan perlu teman-teman pembaca SibatakJalanJalan ketahui adalah bahwa diantara teori ini ada yang mengatakan suku Bangsa Batak berasal dari Pulau Formosa (Taiwan), ada yang mengatakan bahwa suku Bangsa Batak berasal dari Indochina, berasal dari Mongolia, berasal dari Mizoram dan suku Bangsa Batak disebutkan merupakanbagian dari Sepuluh suku yang hilang dari Israel. 


HORAS, SALAM KHAS SUKU BATAK

Sangat akrab dan sangat mudah diucapkan “Horas, lae..”, “Horas kak, Horas bang ...”. Pengucapan kata “Horas” selalu identik dengan suku Bangsa Batak. 

Yang meskipun seseorang belum tentu mengetahui bahwa seseorang yang dimaksud adalah seseorang dengan suku Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing dan atau Angkola atau bahkan Pak-pak

Semua puak suku Batak  akrab dengan Horas dan Batak.
Horas memang benar adalah bagian dari kalimat salam suku Bangsa Batak, adapun hal selengkapnya yang teman-teman SibatakJalanJalan ketahui tentang perbedaan pengucapan kata Horas ini adalah sebagai berikut :

1.      Batak TobaHoras Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”
2.      Batak SimalungunHoras banta Haganupann, Salam Habonaran Do Bona!
3.      Batak Mandailing dan Batak AngkolaHoras Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!
4.      Batak KaroMejuah-juah Kita Krina!
5.      Batak Pak-pakNjuah-juah Mo Banta Karina!


MENJADI BATAK

Menjadi bagian dari suku Bangsa Batak tidak selalu bahwa anda harus memiliki garis keturunan/genealogi suku Bangsa Batak. 

Ada sebuah pilihan untuk teman-teman yang dengan suku di luar suku Batak untuk dapat menjadi bagian dari kami, suku Bangsa Batak. 
Yaitu dengan cara Sosiologis, seperti yang dituliskan pada kalimat pembuka artikel ini. 
Sosiologis dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan melakukan perjanjian marga/padan dengan marga tertentu dan atau pernikahan dengan seseorang dengan suku Bangsa Batak. 


Falsafah danMasyarakat Batak

Ada sebuah falsafah dalam bahasa Batak Toba yang dapat teman-teman SibatakJalanJalan jadikan pegangan hidup dan atau motivasi dalam lingkungan.

Jonok dongan partubu, jonokan do dongan parhundul
Yang artinya adalah agar kita selalu senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat.

Hal yang umum kemudian adalah bahwa dalam pelaksanaan adat Batak, penulis SibatakJalanJalan melihat bahwa sangat penting untuk terlebih dahulu mencari orang-orang yang dengan satu marga dengan diri anda sendiri terlebih dahulu.

Mengapa ? karena dapat menjadi bagian penting dalam menuntun hal-hal apa yang harus anda lakukan dan sebagai pemberi referensi masukan bila anda sedang akan mengadakan sebuah acara adat. Tetap ingat falsafah Batak Toba diatas ya teman-teman SibatakJalanJalan, bahwa tetanggapun tidak boleh terlupakan dalam pelaksanaan adat, dan juga bagian penting dalam bermasyarakat. Bahkan dengan tetangga yang berlaianan suku sekalipun. 

sepasang muda mudi suku bangsa batak
Sepasang Muda-Mudi suku Batak, Sumber gambar : Pinterest.com

Adapun falsafah lainnya dalam suku Bangsa Batak Toba untuk mengatur struktur dan sistem bermasyarakat adalah Dalihan na Tolu yaitu :

Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru”
Yang adapun artinya adalah sebagai berikut :
1.      Hula-hula/Mora, adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula menempati tempat yang paling dihormati dalam adat-istiadat dan maupun dalam pergaulan orang dengan semua suku Batak. Pesan ini bahkan mendapatkan kata penekanan bahwa seorang dengan genealogi dan atau sosiologis suku Batak harus hormat (atau dikenal dengan kata “Somba”) kepada Hula-hula. Diwujudkan dalam Somba Marhula-hula.


2.      Dongan Tubu/Hahanggi dikenal pula dengan sebutan Dongan Sabutuha yang adalah merupakan saudara laki-laki yang dengan satu marganya. Dongan Tubu dan Dongan Sabutuha secara harafiah dalam bahasa Indonesia berarti mereka yang dengan satu marga lahir dari perut yang sama. Sedemikian dekatnya falsafah ini sehingga diharapkan tidak ada pertikaian diantara seseorang dengan orang yang satu marga dengan dirinya. Orang Batak sering digambarkan seperti sebuah pohon, pohon yang satu dengan pohon yang lainnya yang saling berdekatan, pohon ini bisa saja dapat saling menopang, meskipun terkadang saking dekatnya pohon ini dapat mengakibatkan gesekan-gesakan antar pepohonan. Namun bagi teman-teman SibatakJalanJalan yang sedang dalam kondisi ‘mengalami gesekan’ atau sebagai tambahan wawasan saja, tetaplah ingat bahwa hubungan semarga dan suku Bangsa Batak difilosofikan sebagai air dan pisau. Berapa kalipun anda coba membelah air namun air akan tetap bersatu. Ungkapan bijak ini tidak hanya untuk yang semarga saja, namun untuk keseluruhan dan pegangan hidup. Diwujudkan dalam kalimat Manat Mardongan Tubu. 


3.      Boru/Anak Boru, jika suatu kelak anda menikah dan atau sudah menikah maka anda akan dan telah memiliki Boru. Boru adalah sebutan untuk anak perempuan dalam bahasa Indonesia, namun SibatakJalanJalan fokuskan dalam falsafah Batak Toba kali ini adalah keluarga dari Anak Boru tersebut, yang adalah pihak keluarganya. Boru menempati posisi sebagai ‘parhobas’ atau yang berarti pelayan dalam adat-istiadat dan pergaulan sehari-hari. Namun bukan berarti anda boleh memperlakukan semena-mena, melainkan pihak Boru harus diambil hatinya dan dibujuk. Diwujudkan dalam kalimat Elek Marboru.

Perlu diingat ! Tidak ada Kasta dalam sistem kekerabatan suku Bangsa Batak. Sistem dari Dalihan na Tolu yang penulis sebutkan diatas bersifat kontekstual. 

Semua masyarakat Batak akan mengalami peran menjadi Hula-hula, menjadi Dongan Tubu dan menjadi Boru. Dan anda harus juga mampu menempatkan diri secara konstektual tentunya. Sehingga tatanan hubungan berkerabat dalam adat-istiadat masyarakat suku Bangsa Batak harus berperilaku seperti ‘Raja’.

Raja yang dimaksudpun bukan seseorang yang berkuasa, melainkan dapat berperilaku dan besikap baik (lebih kearah bijaksana/bisuk) sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan suku Bangsa Batak.

Maka setelah penjelasan SibatakJalanJalan mengenai hal tersebut akan menjelaskan pada para pembaca mengapa sering dalam pembicaraan adat juga acara adat-istiadat selalu menyebutkan “Raja ni Hulahula, Raja ni Dongan Tubu dan Raja ni Boru”.

Falsafah mengenai Dalihan Na Tolu tidak hanya milik Batak Toba saja, adapun falsafah dan sistem kemasyarakatan dalam puak Batak lainnya adalah perbedannya hanya dalam bentuk katanya saja, namun memiliki arti dan makna yang sama.
1.      Batak Simalungun. Tolu Sahundulan : “Martondong Ningon Hormat, Sombah – Marsanina Ningon Pakkei, Manat – Marboru Ningon Elek, Pakkei”.
2.      Batak Mandailing dan Batak Angkola. Dalihan Na Tolu : “Hormat Mamora – Manat Markahanggi – Elek Maranak Boru”.
3.      Batak Karo. Rakut Sitelu : “Nembah Man Kalimbubu – Mehamat Man Sembuyak – Nami-nami Man Anak Beru”.
4.      Batak Pak-pak. Daliken Sitelu : “Sembah Merkula-kula – Manat Merdengan Tubuh – Elek Marberru”.


“Jambar ” , Hak dalam acara suku Bangsa Batak
Dalam kultur suku Bangsa Batak dikenal ada 3 (tiga) macam Jambar atau Hak dalam acara adat-istiadat . Ketiga Jambar tersebut yaitu adalah : Jambar Juhut, Jambar Hata dan Jambar Ulaon.
Adapun perbedaan diantara ketiga Jambar diatas adalah sebagai berikut :

1.      Jambar Juhut
Jambar Juhut adalah hak untuk mendapat bagian atas hewan sembelihan pada acara adat yang sedang berlangsung atau sedang diikuti seseorang dengan suku Bangsa Batak.
2.      Jambar Hata
Jambar Hata adalah hak untuk berbicara. Berbicara pada acara adat-istiadat juga acara kekeluargaan yang bersifat formal.
3.      Jambar Ulaon
Jambar Ulaon adalah hak untuk mendapat peran maupun tugas dalam pekerjaan publik atau komunitas (pada acara adat-istiadat suku Bangsa Batak dan juga acara formal lainnya)..


Makanan khas

Makanan khas dalam suku Bangsa Batak sudah mengalami modernisasi dan proses perkembangan. Makanan khas yang dahulunya hanya dapat dirasakan dalam waktu-waktu tertentu dan atau hanya orang kelas menengah keatas saja yang dapat menikmatinya, kini menjadi sebuah kekayaan warisan pangan bagi suku Bangsa yang tetap menjaga dan melestarikannya. 

Adapun beberapa macam makanan khas dalam suku Bangsa Batak adalah sebagai berikut yang dapat direferensikan SibatakJalanJalan untuk pembaca sekalian : :
1.      Babi Panggang
2.      Daun Ubi Jantung Pisang
3.      Daun Ubi Tumbuk
4.      Dali Ni Horbo atau Susu Kerbau
5.      Dengke Mas Na Niura
6.      Gadong
7.      Ikan Mas Arsik
8.      Itak Gur-gur
9.      Kacang Sihobuk
10.  Labar
11.  Lapet
12.  Manuk Napinadar
13.  Mie Gomak
14.  Natinombur
15.  Ombus-ombus
16.  Saksang
17.  Sambal tuk-tuk
18.  Sasagun
19.  Sira Pege
20.  Tanggo-tanggo
21.  Terites atau Pagit-pagit
22.  Tipa-tipa


Destinasi Wisata di Sumatera Utara

Tahukah teman-teman pembaca SibatakJalanJalan bahwa Sumatera Utara dikenal sebagai salah satu provinsi terbesar di Indonesia . 
Teman-teman bisa menemukan banyak tempat wisata disini. Semua hal dengan ragam pesona wisata, mulai dari wisata alam, budaya, sejarah, dan juga rohani.

Selain panganan dan kuliner khas yang menggugah lidah teman-teman pembaca SibatakJalanJalan saat berkunjung ke Sumatera Utara, pesona tempat-tempat mengagumkan berikut akan menjadi tempat yang cocok untuk dinikmati untuk berlibur atau sekedar berakhir pekan, berikut tempat-tempat wisata di Sumatera Utara dari SibatakJalanJalan untuk teman-teman pembaca :

1.      Aek Sijorni
2.      Air Soda Parbubu
3.      Air Terjun Sigura-gura
4.      Air Terjun Silaklak
5.      Air Terjun Sipiso-piso
6.      Air Terjun Sisoma
7.      Air Terjun Telaga Dwi Warna Sibolangit
8.      Bukit Gundaling
9.      Bukit Lawang
10.  Cagar Alam Sibolangit
11.  Danau Lau Kawar
12.  Danau Linting
13.  Danau Siombak
14.  Danau Toba
15.  Graha Santa Maria Annai Velangkanni
16.  Gunung Sibayak
17.  Hillpark Sibolangit/Green Hill City
18.  Istana Maimun
19.  Kampung Keling/Kampung Madras Medan
20.  Kebun Raya Tongkoh
21.  Kota Tarutung
22.  Maha Vihara Adhi Maitreya
23.  Masjid Raya Medan
24.  Menara Air Tirtanadi
25.  Monumen Si Raja Panggabean
26.  Panatapan Hutaginjang
27.  Pantai Binasi
28.  Pantai Batu Gajah
29.  Pantai Lagundri dan Pantai Sorake
30.  Pantai Sindeas
31.  Pantai Pandan
32.  Pemandian Air Panas Sipaholon
33.  Pemandian Air Panas Lehu
34.  Penangkaran Buaya Asam Kumbang
35.  Pondok Wisata Rumah Kapal
36.  Pulau Karang
37.  Pulau Nias
38.  Pulau Samosir
39.  Rahmat International Wildlife Museum & Gallery
40.  Rumah Tjong A Fie
41.  Salju Panas Dolok Tinggi Raja
42.  Sampuran Aek Malakkut
43.  Sibiobio Adventure Park
44.  Sipinsur
45.  Sopo Partungkoan
46.  Taman Alam Lumbini
47.  Taman Nasional Gunung Leuser
48.  Taman Wisata Alam Sicike-cike
49.  Taman Wisata Rohani Salib Kasih
50.  Tangkahan
51.  Tugu Toga Aritonang

Demikian artikel kali ini yang ditulis oleh SibatakJalanJalan.com berjudul Semua Hal Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Suku Bangsa Batak Dan Kenapa Kamu Harus Menjadi Batak . Dukung situs SibatakJalanJalan.com terus ya teman-teman dengan SHARE/BAGIKAN dan SUBSCRIBE/LANGGANAN untuk mendapatkan pemberitahuan terbaru dari artikel SibatakJalanJalan selanjutnya.
Sekian.
HORASSS ...!!

Disunting 01-November-2020 23:51WIB
Bagikan:

Posting Komentar

Top Ads

Middle Ads 1

Bottom Ads