Sejarah Musik dalam upacara Perkawinan dan upacara adat lainnya dalam Suku Batak Toba

Upacara adat Batak pada Masa Pra-Kristen

Dalam kehidupan sehari-hari pada masa pra-kristen upacara adat diwujudkan dalam banyak bentuk dan praktek.


sejarah musik dalam upacara perkawinan dan upacara adat lainnya dalam suku batak toba


Upacara-upacara adat tersebut diwariskan melalui informasi dari mulut ke mulut dimulai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hingga upacara-upacara adat tersebut dikenal menjadi bagian budaya yang dilaksakan secara normal dan seringnya dituntut untuk taat kepada generasi berikutnya melakukan budaya yang sama sebagai bagian dari upacara adat. 

Pada zaman pra-kristen gondang sabangunan merupakan alat musik yang digunakan untuk upacara adat pernikahan/perkawinan, namun sering juga penulis mendengar bahwa kemudian kegiatan yang dilakukan dengan ‘gondang sabangunan’ dipandang bertolak-belakang dengan ajaran kristen.

gondang-sabangunan


Upacara adat Batak pada Masa Kristen

Sejak masuknya Nommensen ke Tanah Batak ajaran agama kristen mulai menyebar dikalangan masyarakat Batak Toba, dimana pada masa ini musik yang terlebih dahulu dikenal masyarakat Batak sudah tidak lagi di hantarkan kepada Mula Jadi Na Bolon melainkan kepercayaan mereka sudah berubah dan mulai mengenal Tuhan Yang Maha Esa. 

Perubahan yang demikianpun sudah terjadi dalam sendi-sendi kegiatan upacara adat Batak disesuaikan dengan kepercayaan dan agama Kristen. Musik yang digunakan masih tetap menggunakan ‘gondang sabagunan’ . Nyanyian dan lagu-lagu yang dinyanyikan di gereja telah di nyanyikan juga ke dalam rangkain upacara adat, khususnya nyanyian sebagai nyanyian penghantar ulos.

Masa sekarang

Pada masa kini musik yang digunakan dalam upacara perkawinan adat Batak toba telah mengalami perubahan yang pesat, dimana setelah munculnya masa ‘opera batak’ maka telah masuklah alat-alat musik modern untuk dipakai dan dikombinasikan dengan sulim, taganing, hesek

Musik Batak berfungsi sebagai Pengungkapan Emosional

Pada berbagai kebudayaan, musik memiliki fungsi sebagai kendaraan dalam mengekspresikan ide-ide dan emosi. Musik digunakan untuk menstimulasi perilaku sehingga dalam masyarakat mereka ada lagu-lagu untuk menghadirkan ketenangan.

Para pencipta musik dari waktu ke waktu telah menunjukkan kebebasannya mengungkapkan ekspresi emosinya yang dikaaitkan dengan berrbagai objek seperti cinta, suka-duka, amarah dan mulai mengotak-atik nada sesuai dengan suasana hatinya.

Musik merupakan media yang dapat digunakan untuk mengungkap perasaan. Sebagai contoh, ada orang yang mengungkapkan perasaannya dengan bernyayi, penulisan lirik lagu, dan ada juga yang mengungkapkan perasaannya dengan memainkan alat musik. Pengungkapan emosional tersebut diekspresikan dengan kondisi suasana hati orang tersebut.

Dalam perkawinan, musik yang dimainkan dapat dianggap sebagai media untuk mengungkapkan perasaan. Pada saat orangtua dari pihak pengantin wanita Fungsi pengungkapan emosional.

Pada berbagai kebudayaan, musik memiliki fungsi sebagai kendaraan dalam mengekspresikan ide-ide dan emosi. Musik digunakan untuk menstimulasi perilaku sehingga dalam masyarakat mereka ada lagu-lagu untuk menghadirkan ketenangan.

Para pencipta musik dari waktu ke waktu telaah menunjukkan kebebasannya mengungkapkan ekspresi emosinya yang dikaaitkan dengan berbagai objek seperti cinta, suka-duka, amarah dan mulai mengotak-atik nada sesuai dengan suasana hatinya.

Musik merupakan media yang dapat digunakan untuk mengungkap perasaan. 

Sebagai contoh, ada orang yang mengungkapkan perasaannya dengan bernyayi, penulisan lirik lagu, dan ada juga yang mengungkapkan perasaannya dengan memainkan alat musik. 

Pengungkapan emosional tersebut diekspresikan dengan kondisi suasana hati orang tersebut.

Dalam perkawinan, musik yang dimainkan dapat dianggap sebagai media untuk mengungkapkan perasaan. Pada saat orangtua dari pihak pengantin wanita.

Musik Batak berfungsi sebagai Pengungkapan Penghayatan Estetis

Pada dasarnya setiap orang telah dikaruniai Tuhan dengan berbagai kemampuan belajar (ability to learn) dan bakat (talent) tentang apa saja.

Setiap orang memiliki kemampuan dan kecepatan yang berbeda-beda dalam hal memahami keindahan tentang apa saja termasuk pula keindahan musik. 

Untuk menikmati rasa estetis (indah), maka orang perlu belajar dengan cara membiasakan diri mendengarkan musik-musik. Setiap jenis musik memiliki keunikan melodis, ritmis, dan harmonis yang terkait dengan komposisi dan instrumentasinya.

Pada dasarnya, seseorang dapat enikmati musik karena secara psikologis mampu untuk menghayati musik itu sendiri. Seseorang juga mampu memainkan musik dengan baik apabila mampu menghayati permainan dengan baik. Seorang pemain musik apapun tidak akan maksimal menggunakan instrumen yang dimainkan.

Musik Batak berfungsi sebagai Media hiburan

Pada umumnya setiap orang pasti membutuhkan hiburan dalam berbagai aspek kehidupannya. Hiburan adalah suatu kegiatan yang menyenangkaan hati.

Musik sebagai salah satu cabang seni juga memiliki fungsi menyenangkan hati, membuat rasa puas akan irama, bahasa melodi, atau keteraturan dari harmoninya.

Pada hakekatnya hiburan tidak semata-mata dibutuhkan oleh orang yang diligkupi rasa duka atau memiliki beban berat dalam hidupnya, tetapi hiburan juga dapat dinikmati oleh orang yang senang terhadap sesuatu sehingga dia tertarik untuk menyaksikan atau mendengarkan hiburan tersebut.

Hiburan biasanya disajikan dalam berbagai bentuk penyajian baik pada saat bersifat formal, semi formal maupun non-formal. 

Hiburan yang bersifat formal biasanya identik dengan seni pertunjukan yang ditampilkan dalam berbagai acara-acara yang bersifat akademis, kenegaraan, keaagamaan, konser akbar dan lain sebagainya. 

Hiburan yang bersifat semi formal biasanya ditampilkan ketika konteks acaranya bersifat lebih santai, biasanya dapat kita lihat pada seni pertunjukan kecil seperti mini konser, konser dadakan dan lain sebagainya. 

Hiburan yang bersifat non-formal merupakan hiburan yang dipertunjukkan untuk kepentingan pribadi maupun golongan tertentu yang disajikan tanpa adanya aturan konsep acara yang ditentukan dengan tujuan hanya untuk kesenangan semata atau pengisi waktu luang.

Berkaitan dengan konteks hiburan tersebut, musik pada upacara perkawinan berfungsi sebagai media hiburan juga merupakan instrumen yang sudah sering dipakai dalam seni pertunjukan baik bersifat formal, semi formal, maupun non-formal.

Sebagai wujud fungsi musik perkawinan sebagai media hiburan dalam konteks formal dapat dilihat ketika musik perkawinan menjadi instrumen pokok pada saat acara adat, dalam konteks ini ialah upacara adat perkawinan dan bisa disaksikaan oleh para undangan yang menghadiri pesta adat perkawinan tersebut.

gondang-batak


Musik Batak berfungsi sebagai cara berkomunikasi

Musik sudah dari sejak dahulu digunakan sebagai alat komunikasi baik dalam keadaan damai maupun perang. Bunyi-bunyi teratur, berpola ritmik, dan menggunakan alur-alur melodi menandakan adanya fungsi komunikasi dalam musik. Merriam mengatakan bahwa musik walaupun tanpa syair sebenarnya telah dianggap mengkomunikasikan sesuatu.

Dalam hal ini, fungsi musik pada upacara adat perkawinan sebagai media komunikasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu komunikasi secara vertikal dan komunikasi secara horizontal. 

Komunikasi secara vertikal yakni komunikasi antara manusia dengan pencipta, sedangkan komunikasi secara horizontal yakni komunikasi antara manusia dengan sesama. 

Sebagai bentuk komunikasi yang bersifat vertikal dapat kita lihat ketika musik memainkan repertoar gondang tertentu seperti repertoar Gondang Somba-somba yang memiliki makna penghormatan dan penyembahan kepada sang Pencipta, dimana sang Pencipta dalam repertoar ini menyampaikan sebuah pesan kepada semua yang hadir pada acara tersebut. 

Sedangkan bentuk komunikasi yang bersifat horizontal dapat dilihat pada saat sipargonsi memainkan repertoar seperti repertoar Gondang Elek-elek, Gondang Liat yang mencerminkan komunikasi antara pargonsi (pemain musik) dengan panortor (orang yang menari).

Musik Batak berfungsi sebagai wujud perlambangan

Dalam berbagai budaya bangsa yang masih mempertahankan tradisi nenek moyang mereka, musik digunakan sebagai sarana mewujudkan simbol-simbol dari nilai-nilai tradisi dan budaya setempat. Kesenangan, kesedihan, kesetiaan, kepatuhan, penghormatan, rasa bangga, atau perasaan-perasaan khas mereka disimbolkan melalui musik baik secara sendiri maupun menjadi bagian dari tari, syair, dan upacara.

Alan P. Merriam juga mengatakan bahwa musik dapat berfungsi sebagai perrlambangan atau simbol dari tingkah laku manusia. 

Berbicara mengenai tingkah laku, orang lain diluar etnis Batak pada umumnya memandang bahwa masyarakat Batak Toba dikenal dengan sifatnya yang keras, tegas, prinsipil, yang terkesan kasar dan cepat dalam berbicara. 

Jika ditinjau dari segi musiknya, hal tersebut bisa diterima karena bukti tersebut dapat dilihat dari musik dan repertoar yang disajikan pada setiap acara adat masyarakat Batak Toba, biasanya repertoar gondang selalu dibawakan dengan nuansa intonasi yang tegas, nada dan lirik yang sangat rapat dengan tempo dan durasi yang berbeda-beda. Hal ini membuktikan bahwa musik dapat menunjukkan identitas dari masyarakat pendukungnya, dan musik atau repertoar yang mereka sajikan sesungguhnya melambangkan gambaran umum tentang tingkah laku dari masyarakat Batak Toba itu sendiri.

Melalui repertoar gondang yang dimainkan juga dapat diketahui bahwa repertoar tersebut adalah lambang/identitas dari kelompok tertentu, misalnya gondang sampur marmeme atau pasu-pasu dimana kelompok hula-hula manortor bersama dengan hasuhutan maka gerakan mengangkat tangan sejajar bahu dengan posisi telungkup adalah melambangkan bahwa hula-hula adalah sumber berkat bagi borunya.

Musik Batak berfungsi sebagai cara Reaksi Jasmani

Fungsi musikal musik pada upacara perkawinan sebagai reaksi jasmani sejalan dengan fungsinya sebagai pengungkapaan emosional dan fungsinya sebagai penghayatan estetis, karena reaksi jasmani muncul ketika adanya penghayatan yang menghasilkan emosional, dan emosional tersebut yang kemudian diungkapkan melalui reaksi jasmani. 

Sebagai wujud dari fungsi reaksi jasmani dapat dilihat dengan mengambil contoh pada saat manortor pada pesta adat perkawinan masyaraakat Batak Toba. Ketika pemain musik (pargonsi) memainkan music dengan repertoar yang baik, maka sipanortor akan manortor kegirangan sambil mengeluarkan seruan “eee.. mmada...” yang secara harafiah diartikan “ya inilah kegembiraan kita”.

Sebaliknya ketika lagu atau repertoar yang dimainkan oleh pargonsi (pemusik) kurang keindahannya bagi panortor, maka dengan spontan para audience akan mendapat teriakan dan sorakan negatif dari para panortor. 

Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa nikmat atau tidaknya sajian sebuah musik akan memperoleh reaksi jasmani positif maupun negatif pula dari orang yang mendengarkan.


Referensi :
Priskila, Anita Romauli. 2015. Musik Pada Upacara Adat Perkawinan Batak Toba Di Kota Medan: Kajian Fungsi, Kontinuitas, Dan Perubahan. Medan. Fakultas Ilmu Budaya, Departemen Etnomusikologi, Universitas Sumatera Utara

Baca juga artikel Sibatakjalanjalan.com lainnya :
Horas.
Bagikan:

Posting Komentar

Top Ads

Middle Ads 1