Sejarah Perjalanan Penginjilan Kristen Di Tanah Batak

Tinjauan Historis Sejarah dan Situs ke-Kristenan di Tanah Batak, Khususnya Tapanuli Utara


Akhir abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1860-an, para missionaris Kristen dari Jerman hadir di tengah suku Batak Toba. Beberapa badan misi Kristen dari Eropa mengutus para missionaris ke wilayah suku Batak. 

sejarah perjalanan penginjilan kristen di tanah batak


Pada waktu itu, suku Batak umumya masih hidup terisolir, utuh dalam kehidupan adat istiadat suku Batak, budaya tradisional. 

Kehadiran para missionaris, khususnya pada masa kepemimpinan Ingwer Ludwig Nommensen, kekristenan begitu cepat menyebar di tengah masyarakat Batak, berasal dari Tapanuli Selatan dengan cepat menyebar ke Silindung hingga ke Humbang, Toba Holbung, Samosir dan sekitar Danau Toba.

Lembah Silindung -Tapanuli Utara, kemudian dikenal sebagai pusat misi penginjilan Tanah Batak. 

Sejarah penginjilan di Tanah Batak telah juga meninggalkan kekayaan situs sejarah religi, yang kemudian menjadikan kota Tarutung dan Tapanuli Utara menjadi kota tujuan wisata rohani. 

Kekayaan ini tentu harus dilestarikan dan dikelola, sehingga berdampak positip dalam kehidupan kerohaniaan di satu sisi, dan di sisi lain berdampak nilai ekonomis dalam industri pariwisata.

Memahami Sejarah, bagaimanapun kita harus memulai dari setting peristiwa sejarah yang melatar belakangi. 

Oleh karena itu, memahami sejarah kekristenan di Tanah Batak harus kita mulai dari setting kehidupan sosial dan budaya suku Batak pada masa itu. 
Dalam tulisan ini, saya mulai dari gambaran isolasi suku Batak Toba dan pengaruh-pengaruh asing yang pernah memasuki tanah Batak. Di akhir pemaparan, akan ditunjukkan penginjilan di Tanah Batak, sebelum dan masa penginjilan Nommensen.

rumah bolon batak di hotel inna parapat


Isolasi Suku Batak dan Pengaruh Asing

Para penulis sejarah mengasumsikan bahwa gelombang migras kedua, yang disebut dengan “Proto Melayu" termasuk orang Batak, mengambil tempat pertama sekali di nusantara pada tahun 2000 SM. 

Setelah migrasi ini, para kaum Proto Melayu ini, hidup terisolasi dan berbeda di dataran tinggi sepanjang Bukit Barisan, dan secara khusus terkonsentrasi di sekitar Danau Toba

Mereka mengembangkan pertanian padi dan menanam umbi-umbian dengan alat sederhana. Kehidupan religi dipengaruhi respek kepada kekuatan roh dan alam.

Sebelum masuknya kekristenan, berabad-abad lamanya suku Batak telah terpencil dari hubungan-hubungan luar, karena letak daerahnya yang bergunung-gunung dan pemencilan diri sendiri yang mereka kenakan kepada dirinya. 

Sebelum masuknya pengaruh Barat dan kekristenan, keadaan alam tidak memungkinkan adanya komunikasi yang lancar antara orang Batak yang telah tersebar mulai dari daerah selatan Danau Toba sampai daerah utara Danau Toba, demikian juga dengan pengaruh luar.

Memang isolasi tersebut tidaklah sempurna. Selat malaka di sebelah Timur telah menjadi jalur perdagangan yang penting lebih dari dua ribu tahun. 

Amat wajar bila berbagai sub kelompok Batak (Batak Karo dan Batak Simalungun) yang berbatasan dengan jalur itu mendapatkan pengaruh yang agak kuat dari para pelaut Hindu dan Islam. 

Pengaruh itu terjadi lebih mudah sebab pantai di daerah tersebut agak lebar dan subur, dengan muara sungai yang tenang dan dalam.

Isolasi pusat Tanah Batak, tempat tinggal orang Batak Toba, jauh lebih ketat. Pantai Baratnya sempit dan terlindung oleh hutan yang luas dan bergunung-gunung. 

Di balik daerah yang berfungsi sebagai benteng ini, dalam lembah-lembah yang pengairannya berasal dari dataran tinggi, bermukimlah orang Batak Toba, yang selama berabad-abad tidak terganggu dan mengembangkan berbagai lembaga yang unik.

Di bawah ini akan ditunjukkan beberapa ruang pengaruh asing yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi tanah Batak.

 Tinjaun sejarah ini sekaligus juga menunjukkan isolasi suku Batak dibandingkan suku bangsa lain di Sumatera, dan terutama isolasi Batak Toba dibanding sub etnis Batak lainnya.


Pengaruh Hindu-Budha (pada zaman suku Batak Kuno)

Sejumlah petunjuk mendorong dugaan bahwa sejak permulaan tarik Masehi, Sumatera bagian Utara menjadi bagian dari sebuah wilayah Hindu-Budha yang besar. 

Para ahli sejarah sepakat bahwa pengaruh Hindu dan Budha ada pada kultur Batak. 

Philip L. Tobing berpendapat bahwa pengaruh Hindu ke daerah Batak datang melalui pengaruh kerajaan Majapahit yang beragama Hindu di Jawa pada abd ke-13 dan abd ke-14. 

Nama untuk dewa-dewa "debata" diperkirakan berasal dari bahasa Jawa-Hindu "deva". Ditemukan juga persamaan nanma mata angin pada kedua bahasa ini. 

Berbeda dengan Tobing, Tideman menunjukkan pengaruh langsung agama dan budaya Hindu dari India dan sampai di tanah Batak melalui pelabuhan barus sebagai pusat perdagangan pada waktu itu di Sumatera Utara. 

Menurut Tideman, bahwa pelaut-pelaut Hindu sejak lama sudah berhubungan dagang orang Batak, terutama dalam perdagangan kapur barus, kemenyan, cula badak, gading gajah, dan lain-lain. 

Kemungkinan pada akhir abd ke-7, bagian utara Sumatera secara resmi masuk dalam pengaruh kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha. 

Tampaknya pada saat itu, Barus menjadi ibukota kedua kemaharajaan Sriwijaya. 

Lebih jauh, Tideman mengatakan dalam studinya, bahwa pengaruh langsung Hinduisme dari India dapat ditemukan pada kultur Batak. 

Seperti tampak dalam bahasa dan aksara, mitologi, kalender dan pustaha (buku Batak yang berisi ungkapan-ungkapan, kata-kata magis untuk pengobatan penyakit), kurban kuda dan tongkat magis, permainan catur, sistem dinasti kerajaan Sisingamangaraja, dan marga-marga Sembiring pada Batak Karo). 

Kedua pendapat yang berbeda di atas kemudian dihubungkan oleh Paul B. Pederson. Pada suatu waktu sesudah tahun 2000 SM dan sebelum tahun 1500 M, Kebudayaan Suku Batak dipengaruhi oleh suatu peradaban Hindu-Budha di daerah-daerah Selatan dan pesisir Sumatera Utara. 

Kolonisasi asing mungkin secara langsung datang dari India atau mungkin dari Jawa, tetapi yang paling besar kemungkinannya ialah dari orang-orang Melayu Minangkabau di Sumatera Barat. 

Berpuluh-puluh candi yang rusak dan puing-puing di lembal Asahan dan di Selatan Tanah Batak membuktikan adanya peradaban yang berkembang tinggi pada abd ke-12 dan ke-13. 


Pengaruh Islam

Dengan masuknya Islam ke Sumatera, maka pengaruh Hindu dan Budha berakhir. Orang Batak di pedalaman Sumatera kembali mengisolasi diri. Pedagang-pedagang Islam berhasil mengislamkan daerah pantai dan sebagain pedalam Sumatera. 

Sesudah beberapa abad orang Batak dikelilingi oleh suku-suku yang beragama Islam, Minangkabau di Selatan, Aceh di Utara dan Melayu di pantai Timur Sumatera. 

Dari masuknya Islam hingga abd ke-18 secara umum dapat dikatakan bahwa dunia Batak kembali menutup diri. Memang ada sedikit hubungan dagang dengan Islam baik di pantai Timur baik di pantai Barat. 

Nampaknya pengaruh perdagangan ini telah mempengaruhi suku Batak di Tapanuli bagian Selatan dan berpengaruh juga kepada Batak Karo, dan Batak Simalungun yang berbatasan langsung dengan jalur perdagangan selat Malaka. 

Tetapi Batak Toba tetap dengan ketertutupannya, terpisah dari sub-sub suku Batak lainnya. 

Awal abad ke-19 terjadilah invasi ke Tanah Batak oleh orang Minangkabau. Serangan dan pendudukan Paderi berpengaruh sangat dalam bagi suku Batak, terutama Batak Mandailing dan Angkola di Selatan Tapanuli yang kemudian diislamkan dengan kekerasan

Memang sebelum invasi ini beberapa pimpinan Mandailing di daerah selatan Toba telah beragama Islam menjelang tahun 1820. 

Tentu para pemimpin ini masuk Islam sebagai pengaruh tetangga mereka Minangkabau atau Melayu Pesisir yang bersebelahan dengan sungai Bilah-Panei

Perang Paderi telah menancapkan pengaruh Islam di Tapanuli Selatan yang mengakibatkan mereka menjadi Islam. Pendudukan Paderi juga diikuti pendirian sebuah pangkalan Islam di Tapanuli

Bagi suku Batak Toba sendiri, invasi Paderi tidak meninggalkan pengaruh agama Islam sama sekali. Suku Batak Toba tetap menganut agama suku. 

Namun, pengaruh Paderi dirasakan juga sampai ke pedalaman sekitar danau Toba wilayah suku Batak Toba. 

Bahkan dalam hikayat Toba, Tuanku Rao disebut "Sipongki Nangolngolan", yang adalah kemenakan dari Raja Sisingamangaraja ke-X yang ingin membalas dendam kepada Sisingamangaraja. 
Walau tanpa menancapkan pengarug agama Islam ternyata perang Paderi telah menyisahkan ingatan kolektip bagi suku Batak Toba. Ekspansi Paderi diingat sebagai suatu zaman pendudukan kaum Bonjol yang diikuti tindakan-tindakan pembakaran desa, dan pembantaian penghuninya sampai tindakan asusila. Tindakan kekerasan yang dialami penduduk tanah Batak telah melukai sangat mendalam sehingga sulit dilupakan dari generasi ke generasi. Perjalanan sejarah Batak sesaat sebelum masuknya agama Kristen dan kolonialisme Belanda disimpulkan sebagai zaman tingki ni Pidari (zaman Bonjo).  Artinya zaman yang penuh kegelapan, kekacauan, penyembahan berhala (hasipelebeguon).

Pada zaman Paderi itu dicatat pula situasi penuh konflik, sosial, dan perang antar desa, praktek judi, perbudakan, rentenir, seringnya ditimpa penyakit yang tiba-tiba mewabah, serta begu antuk, yaitu penyakit kolera, atau penyakit sampar.


Masuknya Pengaruh Barat dan Kolonial

Pertama sekali kontak Sumatera dengan pengaruh Barat dimulai sejak abad ke-16 sampai abad ke-17. 

Pedagang Barat memasuki Aceh di Sumatera bagian Utara dan membangun hubungan dagang dengan Sumatera Tengah, dengan Siak di pantai Timur, dan Minangkabau di Pantai Utara. 

Kedatangan para pedagang barat ini pertama sekali tidak begitu mencolok. 

Bangsa Portugis, Belanda, dan Inggris masing-masing datang berdagang dengan para pedagang lain, seperti Melayu, Arab, India, Aceh, dan Jawa. 

Selama abd 16-17 para pedagang ini mengunjungi kota-kota pelabuhan untuk mencari kemenyan, bahan pewarna, dan mineral dari dataran tinggi untuk ditukar dengan garam, pakaian, dan barang-barang logam. 

Lagi-lagi kediaman Batak Toba, tetap terlindung dari pusaran perdagangan Barat ini. 

Memang para pedagang Barat ini telah juga mengunjungi dua pelabuhan besar di pantai Barat Sumatera Utara yaitu pelabuhan Tapanuli dan pelabuhan Mandailing Natal

Pedagang Inggris pada permulaan abad ke-19 telah membuka pos kongsi dagang di kedua pelabuhan ini. Keberadaan dua kota pelabuhan ini dilaporkan oleh Marsden yang menguajungi dan bahkan tinggal beberapa saat di daerah ini. 

Marsden menyebutkan dalam laporannya, para pedagang Inggris tentu tidak masuk ke  pedalaman Tapanuli karena ketakutan akan orang batak yang kannibal. 


Terbukanya Isolasi Batak dan Penginjilan di Tanah Batak

Masuknya zending ke tanah Batak merupakan suatu peristiwa luar biasa dalam abad ke-19 terutama pengaruhnya pada suku Batak Toba. 

Telah dijelaskan sebelumnya, beberapa pengaruh besar asing ternyata tidak mampu secara kuat mempengaruhi kehidupan suku Batak. 

Walaupun orang-orang Batak "meminjam" dari kebudayaan Hindu dan Budha yang mengelilingi Tanah Batak, Namun tidak ada dari kedua agama itu yang menguasai masyarakat Batak. 

Orang orang Islam yang tekun dan dinamis dari Aceh di sebelah Utara dan dari Minangkabau di sebelah Selatan telah gagal juga untuk menggantikan kepercayaan Batak yang tradisional itu. 

Namun akhimya kekristenan begitu berdampak dan berpengaruh serta mengubah ketertutupan suku Batak.


Percobaan awal Penginjilan oleh Burton dan Ward

Kristenisasi di tanah Batak berlangsung tak lama sebelum tahun 1820. Ketika Sir Thomas Stamford Rafles bertugas di Bengkulu. Rafles, wakil Inggris dengan kuat mendorong usaha- usaha penginjilan di kalangan orang Batak. 

Beberapa sumber mangatakan, bahwa Rafles mencoba memisahkan orang Aceh Islam yang kuat di sebelah Utara Tanah Batak dari orang Mianangkabau Islam yang kuat di sebelah Selatan. 

Politik ini agaknya merupakan pola  memecah-belah untuk kepentingan kolonial. 

Baptist Mission Siciety of England mengirim tiga orang missionaris ke Sumatera. Richard Burton, seorang ahli ilmu bahasa dan ilmu bangsa-bangsa ditunjuk untuk menerjemahkan kitab suci ke dalam bahasa Batak, Nathanael Ward seorang ahli ilmu kesehatan dihunjuk untuk menyelidiki wabah kolera yang telah berjangkit di Silindung dan Toba, dan Evans ditunjuk untuk mendirikan sekolah-sekolah di sekitar Tapian Nauli. 

Tahun 1824 mereka telah menjelajah tanah Batak. Usaha ini tidak membuahkan hasil dan pengaruh terhadap suku Batak.

Tahun 1834 Badan Zending Amerika juga mengutus Munson dan Lyman tetapi akhirnya mati terbunuh, yang secara meluas disangka bahwa mereka dimakan oleh orang-orang Batak, yang pada saat itu reputasi orang Batak sebagai kanibal.

monumen peringatan munson dan lyman di lobu pining

Muson dan Lyman

Samuel Munson lahir tanggal 23 Maret 1804 di New Sharser Maine, sedangkan Henry Lyman lahir tanggal 23 Nopember 1809 di Northantom Amerika Serikat. Dari catatan sejarah, kedua missionaris ini berbeda karakter dan inteligensi sejak masa kecilnya.

 Munson adalah seorang anak yang pintar dan cerdas, sedang Lyman, seorang anak yang sampai masa remajanya menunjukkan sikap yang anti keagamaan. 

Tetapi akhimya, Lyman masuk ke sekolah Pendeta. 

Disinilah Lyman bertemu dengan Munson. 

Setelah tamat dari sekolah Pendeta Tahun 1832 dan menikah tahun 1833, Munson dan Lyman dipersiapkan sebagai missionaris ke Tanah Batak

Dua keluarga muda penginjil Amerika ini naik kapal laut dari Boston- Amerika pada 10 Juni 1833. 

Munson dan Lyman tiba di Batavia 30 September 1833. Selama di Batavia mereka memperlengkapi diri dengan belajar bahasa Cina dan Melayu, dua bahasa yang menjadi bahasa pengantar umum di Batavia. 

Tanpa bersama keluarganya, Munson dan Lyman berangkat dari Batavia menumpang kapal laut menuju Padang, 7 April 1834 dan tiba 29 April 1834. 

Munson dan Lyman berada di Padang sampai 11 Mei 1834 untuk memperoleh informasi tentang penduduk Sumatera. 

Mereka bertemu dengan penduduk pribumi setempat, orang Melayu, Cina, dan Nias

Kedua penginjil tersebut juga ingin mengetahui tentang perang Paderi di Minangkabau dan seberapa jauh dampak serbuan tentara Paderi di Tanah Batak

Keterangan dari Ward sangat banyak menolong Munson dan Lyman mengetahui tentang tanah Batak, khususnya berkaitan dengan kunjungan Ward ke Silindung 10 tahun sebelumnya (1824). 

Mendengar kesan Ward, yang sangat positif tentang orang Batak menambah semangat Munson dan Lyman. 

Kedua penginjil ini yakin bahwa mereka tidak bakal ditolak oleh penduduk Silindung, tetapi akan disambut dengan rasa dan sikap hormat bahkan akan dijamu dengan makanan khas Batak dan pesta Batak (Tari tor-tor). 

Munson dan Lyman hanya belajar bahasa Melayu dan tidak sempat belajar bahasa Batak, bahasa yaug akan mereka andalkan manakala jadi bertemu dengan orang Batak di tanah airnya sendiri. 

Dari Padang Munson dan Lyman berangkat 11 Mei 1834 naik sebuah tongkang penduduk yang biasa mengunjungi Pariaman, Air Bangis, menuju pulau-pulau Batu sampai di Pulau Nias

Kedua penginjil (Munson dan Lyman) bersama para penumpang lain, telah mengalami betapa kencang angin yang menerpa tongkang tersebut. 

Munson dan Lyman bersama penumpang lain merasakan tongkang ibarat sebuah bola kecil di permain-mainkan ombak yang bergulung-gulung, akhirnya mereka tiba 17 Juni 1834 di Pulau Pamarenta, demikian sebutan popular dari Pulau Poncan Kete, pusat pemerintahan Inggris, kemudian Belanda yang sudah dekat dengan Sibolga. 


Pejabat pemerintah Belanda setempat, kontelir Bonnet menyarankan supaya mereka segera melakukan perjalanan. 

Kontelir tersebut berpendapat, penduduk tanah Batak tidak bakal mempersulit kunjungan mereka tetapi justru akan menerimanya dengan tangan terbuka. 

Namun ada pula orang yang membisikkan kepada inereka, bahwa penduduk merasa curiga kepada orang asing sejak kunjungan Burton dan Ward

Argumen ini didasarkan pada suatu Situasi karena usai kunjungan Burton dan Ward terjadi perang Paderi yang membantai banyak orang dan akibat kekejaman kaum Paderi banyak penduduk yang kehilangan sanak keluargnya. 

Mendengar keterangan itu dalam benak Munson dan Lyman timbul pertanyaan : Apakah mereka nanti akan ikut dicurigai kaum Batak dan dianggap sebagai mata-mata musuh ? 

Namun hal itu tidak menggoyahkan semangat mereka untuk bertemu dengan kaum Batak. Bagi kedua penginjil ini, kaum Batak sedang ditimpa kemalangan dan jatuh miskin sehingga butuh penghiburan dan damai serta membenci ragam perselisihan dan pemusuhan. 

Pada pagi hari 22 Juni 1834, Munson dan Lyman telah meninggalkan Pulau Poncan menuju Sibolga, dimana mereka bermalam sambil bergabung dengan rombongan penunjuk jalan dan pengangkut barang yang sudah disiapkan oleh kontelir Bonnet

Besoknya, 23 Juni 1934 rombongan Munson dan Lyman berangkat menuju pediaman tanah Batak, Silindung. 

Datu Raja Mangkuta dari Kalangan sebagai juru bahasa, seorang polisi bernama Rakim, 10 orang kuli pengangkut barang sambil meretas jalan yang penuh lalang dan pepohonan, serta dua orang pembantu mereka tyang dibawa dari Jakarta, si Jan orang Jawa dan seorang Juru masak. 

Munson dan Lyman masıng-masing membawa satu pistol sebagai persipan apabila bertemu dengan binatang buas seperti harimau. 

Sang polisi dan juga si Jan membawa senjata laras panjang, sedangkan para kuli membawa parang. Rombongan Munson dan Lyman memilih rute pejalan kaki dari Sibolga menuju desa Poriaha, Poriaha Julu, Pagaran Baringin, Huta Imbaru, tiba di desa Sibungabunga


Hari berikutnya, 24 Juni, rombongan melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan, mereka tidak menemukan satu desa kecuali desa Sigarupu. 

Pada sore harinya mereka tiba di desa Rampa diterima Raja Suasa Hutagalung dan dengan terbuka menyediakan penginapan bagi tamu asing yang tiba-tiba sampai di desanya. 

Pembicaraan Lyman dalam bahasa Melayu diterjemahkan juru bahasa Datuk Raja mangkuta ke dalam bahasa Batak. 

Setiap pertanyaan dari raja maupun warga desa selalu dijawab oleh Lyman dan kesempatan tersebut juga digunaknnya untuk menyampaikan Injil. 

Pada pagi keesokan harinya 25 Juni, mereka nielanjutkan perjalanan menebas lalang tinggi supaya bisa melintas mengikuti arah yang ditunjuk oleh ahli penunjuk jalan.  Sepanjang hari mereka hanya melewati desa Sitapayan. 

Sore hari mereka tiba di desa Pagaran Lambung, disambut baik oleh Raja Sinomba Hutagalung dan memfasilitasi mereka untuk bermalam. Pada tanggul 26 Juni, mereka melalui desa-desa Parbarungbungan, Parsingkaman, Sibalanga, dan Pagaran Pisang

Pada sore hari tiba di Adian Koting. Mereka disambut baik oleh Raja Amani Busir Hutabarat. Sama halnya denga sikap sopan dan santun para raja terdahulu, Raja Ama ni Busur juga memeperlakukan kedua penginjil berserta rombongannya dengan sikap hormat dan ramah. 

Sebelum istirahat malam, mereka duduk sambil mengadakan pertemuan dengan raja Ama Ni Busur dan penghuni desa Adiankoting. 

Lyman dibantu oleh juru bahasa Datuk Raja Mangkuta menjawab senua pertanyaan dan tekun menyimak informasi yang   disampaikan Raja Ama ni Busur dan penduduk desa. 

Lyman juga selalu menyempatkan diri untuk menyampaikan injil. Hari berikutnya, Sabtu 28 Juni 1834, usai mengucapkan terimakasih kepada tuan rumah, mereka berangkat menuju Silindung

Ahli penunjuk jalan memperkirakan bahwa rombongan akan tiba pada sore hari di desa Sitangka di Silindung, di rumah raja Barampak Lumbantobing. 

Menginap disana dan direncanakan pada hari Minggu pagi akan mengadakan kebaktian Minggu bersama dengan penduduk desa Sitangka. 

Menjelang sore, rombongan Munson dan Lyman tiba di Lobu Sisangkak daerah Lobu Pining, sebuah tempat berupa hutan karena ditumbuhi pepohonan dan ilalang serta semak belukar yang lebat, yang menghambat penglihatan ke depan. 

Sekitar jam 4 sore tanpa sengaja mereka melihat di depan ada sebuah benteng pertahanan. Terdiri dari timbunan batang kayu yang baru ditebang. 

Tampak sedang berdiri sosok-sosok manusia yang sedang jaga, lengkap dengan senjata seperti lembing dan senjata api buatan lokal Batak. 

Rupanya benteng yang baru saja dibangun itu ada kaitannya dengan kedatangan kedua penginjil Munson dan Lyman

Melihat keadaaan itu, Datuk Raja Mangkuta menjumpai orang yang ada di benteng. Setelah berbicara dengan penghuni benteng, ia tidak kunjung kembali. 

Beberapa saat kemudian sebuah rombongan besar yang lengkap dengan senjata tombak datang menyergap Munson dan Lyman kedua pembantu yang dibawanya dari Jakarta tetap mendekat kepada kedua penginjil, sedangkan anggota rombongan lainnya termasuk polisi Rakim telah menghilang menyelamatkan diri. 

Munson dan Lyman serta juru masak yang ingin menolong tuannya tewas ditempat karena hujaman tombak menembus tubuh mereka. 

Jan kemudian lari, setelah melihat kedua tuannya tergeletak tidak bernyawa lagi inilah akhir perjalanan penginjil yang telah mempersiapakan diri menjadi pemberita injil kepada orang Batak. 

Perjalanan mereka terpaksa berhenti di Lobupining untuk selama-lamanya dan mereka tidak kembali bersama keluarganya yang saat itu ditinggalkan di Jakarta. 

Peristiwa tersebut dengan cepat menyebar menjadi berita dramatis yang mengejutkan penduduk sekitar. Mereka menyesali perbuatan penduduk Lobupining yang tega membunuh kedua penginjil. 

Pada hal kedua penginjil tidak sedikitpun berbuat curang dan salah terhadap penduduk, tetapi penduduk menduganya sebagai musuh. Raja setempat, Raja Panggalamei menjadi cibiran dan buah bibir penduduk sekitar. 

Setelah peristiwa itu, terjadilah suasana yang mengharukan di pantai pelabuhan Batavia. Banyak orang berdiri di pelabuhan menanti kedatangan sebuah kapal yang akan tiba dari Padang. 

Diantaranya dua perempuan berbangsa Amerika, yang satu menggendong anaknnya. Ibu itu adalah Ny. Munson bersama dengan sahabatnya Ny Lyman. 

Mereka berdua sebelumnya telah menerima surat dari suaminya yang mengabarkan keadaannya baik-baik saja dan akan kembali ke Batavia setelah menyelesaikan tugas penjajakan ke pedalaman tanah Batak

Saat kapal yang dinantikan tampak, para penjemput mulai melambaikan tangan termasuk Ny. Lyman dan Ny. Munson beserta rekan-rekannya yang mendampinginya. 

Ketika kapal berlabuh, satu persatu para penumpang turun dan disambut oleh handai tolan dan keluarganya. 

Semuanya penumpang sudah keluar dari kapal, namun penginjil Lyman dan Munson tak kunjung muncul. 

Beberapa saat kemudian, Ny Lyman dan Ny Munson menerima kabar bahwa sang suami mereka telah tiada. Mereka membaca informasi resmi dalam surat kontelir Bonnet dari Padang yang diserahkan oleh petugas kapal. 

Dengan diliputi kesedihan yang sangat mendalam, luka dalam hati dan batin yang menyesakkan membebani Ny Lyman dan Ny Munson dalam perjalanan ke Batavia. Pada bulan Oktober 1834, Ny Lyman dan Ny Munson kembali ke tanah air mereka di Amerika. 

Sekitar 57 tahun kemudian, tepatnya tanggal 13 Juli 1891, Ny Munson meninggal dunia dalam usia 84 tahun di Farmington, Maine. 

Sedangkan, Ny Lyman menikah lagi dengan Pdt. C. Wile, dan kapan beliau meninggal dunia tidak tercatat dalam buku Zending ABCFM (America Board Commission for Foreign Ministry) yang mengutus Munson dan Lyman.

Nama Lyman dan Munson tidak pernah luput dari ingatan kolektif orang-orang yang terus mendambakan pemberitaan Injil ke semua makhluk. 

Beberapa tahun kemudian, utusan Zending Amerika ABCFM tiba di tanah Batak, mereka datang khusus untuk mengambil sebagian tulang belulang kedua martir Lyman dan Munson untuk dibawa ke Amerika. 

Setiap orang yang mengunjungi kota Northhamton di Amerika Serikat akan dapat membaca ungkapan sebuah prasasti : peringatan akan Pdt Hendri Lyman, anak dari Theodore dan Susan Lyman, penginjil dari badan Zending Amerika beserta temannya Pdt. Samuel Munson, yang tak bersalah, dibunuh orang Batak di Sumatera, 28 Juni 1834.

tugu memorial peringatan munson dan lyman di lobu pining


Munson dan Lyman dikenang 1907 dan 1934

Pada tahun 1907 didirikan sebuah monumen di Lobupining untuk mengingat pengabdian kedua hamba Tuhan Munson Lyman yang tewas terbunuh tahun 1834. Dalam suatu prasasti tertulis suatu kalimat:

Munson dan Lyman meninggal dunia karena dilahap oleh orang Batak 

suatu ungkapan yang ditulis dalam bahasa Jerman: “Gegessen und Gefrese”. 

Ungkapan itu pada kemudian hari menimbulkan rasa rishi karena kaum Batak dituduh sebagai manusia pemakar danging manusia.

Namun 100 tahun kemudian, 1934, kalimat tersebut dihilangkan dan yang tersisa adalah suatu ungkapan Bapa gereja bertulis:

Darah para martir adalah benih bagi gereja Tuhan Yesus

Perubahan tersebut dilakukan secara formal dalam rangka memperingati 100 tahun kematian kedua martir Munson dan Lyman dan sekaligus memperingati hari kelahiran tokoh Zending Jerman Rhein, I.L Nommensen pada tahun 1934.

ingwer ludwig nommensen missionaris kristen dan pionir gereja hkbp


Penginjilan Nommensen

Ingwer Ludwig Nommensen lahir di sebuah pulau kecil Nordstrand, Jerman, 6 Februari 1834. Keluarganya hidup dalarn kemiskinan dan penderitaan, ditambah sang ayah yang sering jatuh sakit. 

Nommensen adalah anak satu-satunya laki-laki dengan tiga saudara perempuan. 

Pekerjaan memintal tali dilakukan sang ayah, walau dirundung sakit untuk kebutuhan makan sehari-hari. 

Masa kecil Nommensen sungguh terjerat kemiskinan. 

Bersama dengan anak-anak miskin lainnya, Nommensen terkadang harus pergi ke rumah orang kaya hanya untuk mengambil sisa makanan untuk dimakan. 

Kira-kira beranjak usia 4 tahun, seorang jurutulis sebuah toko yang kejam datang untuk menagih hutang. 

Dengan kasar, juru tulis itu mengancam ibunya akan menyita rumah dan barang jika tidak segera melunasi hutang. 

Dengan penuh tanya, setelah jurutulis pergi, Nommensen bertanya kepada sang ibu, 

ibu apakah itu Tuhan kita ?

Ibunya menjawab, seandainya itu Tuhan kita, tentu kita akan binasa. Justru, pertanyaan Nommensen kecil menuntun sang ibu mengadu kepada Tuhan akan kesulitan hidup mereka. 

Sejak kecil, Nommensen sudah mencari nafkah untuk membantu orangtuanya. 

Pada umur 8 tahun, Nommensen mulai mencari nafkah untuk membantu orangluanya dengan cara menggembalakan domba. 

Pada usia 9 tahun, pada libur sekolah, Nommensen mulai belajar untuk menjahit tenda. 

Pada usia 10 tahun, ia bekerja pada seorang petani yang kaya untuk mengerjakan tanah. 

Ia juga bekerja menuntun kuda yang menarik bajak untuk membajak tanah petani kaya tersebut. 

Seringkali Nommensen harus mendapat marah, karena kantuk yang tak tertahankan ketika menuntun kuda bajak. Pada tahun 1846, saat berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan.

Sewaktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, Nommensen ditabrak kereta kuda yang menggilas kakinya sampai patah dan keadaan yang demikian memaksanya berbaring di tempat tidur berbulan-bulan lamanya. 

Waktu itu, dalam doanya, Nommensen meminta kesembuhan dan berjanji, jika ia disembuhkan, maka ia akan memberitakan injil kepada orang kafir. 

Setelah kakinya sembuh, Nommensen kembali menjadi buruh tani untuk membantu keluarganya setelah kematian ayahnya.

Pada usia 20 tahun, Nommensen berangkat ke Barmen (sekarang Wuppertal) untuk melamar menjadi penginjil. 

Selama empat tahun Nommensen belajar di seminari zending Lutheran Rheinische Missionsgesellschaft (RMG). Sesudah lulus, Nommensen kemudian ditahbiskan menjadi missionaries pada tahun 1861. 

Nommensen ditugaskan oleh RMG ke Sumatera dan tiba pada tanggal 16 Mei 1862 di Padang, setelah berlayar selama 142 hari, tanpa pernah melihat daratan. 16 Juni 1862, Nommensen berangkat menuju Sibolga, bersama nona Malga (tunangan Van Asselt) dan Punrau (seorang Dayak) dan tiba 23 Juni melanjutkan perjalanan ke Barus. 

Nommensen memulai misinya di Barus dengan harapan akan mendapatkan izin untuk menetap di daerah Toba. 

Namun, pemerintah kolonial tidak mengizinkan dengan alasan keamanan. 

Oleh sebab itu, Nommensen bergabung dengan penginjil- penginjil lain yaitu misionaris Pdt. Heine dan Pdt. Klammer yang telah berada di daerah Sipirok yang setelah Perang Paderi dimasukkan dalam wilayah Hindia Belanda. 

Di situ, sebagian dari penduduk sudah memeluk agama Islam sehingga kemajuannya lambat. Setelah berdiskusi dengan kedua misionaris ini, disepakati pembagian wilayah pelayanan, bahwa Nommensen akan bekerja di Silindung. 1862. 

Kemudian Nommensen dan Punrau Kunjungan Nommensen pertama ke Silindung dilakukan pada 7 Nopember 1863 dari Bunga Bondar Tapanuli Selatan. Tuan Betz mengantar Nommensen sampai ke Simangambat dan bermalam di sana. 

Pada pagi hari, besoknya, rombongan Nommensen berangkat menuju Utara, dan sepanjang perjalanan hingga malam tanpa menemukan rumah penduduk. 

Kemudian, mereka memutuskan untuk bermalam di sebuah gua, liang, di tepi sebuah bukit yang tinggi. Di gua ini Nommensen bertemu dengan penduduk Pangaribuan yang bersembunyi akibat perang arntar kampung. 

Besok paginya, dengan tubuh yang lelah karena tidur beralaskan pasir basah di gua, Nommesen dan rombongan melanjutkan perjalanan, dan setengah tiga sore sampai di Banjar na Hor

Setelah beristirahat sebentar, mereka akhimya tiba di kampung Raja Ompu Gumara

Mereka disambut dengan pesta, dan meminta Nommensen dapat tinggal bersama mereka dan menyelesaikan perang dengan kampung lain, yang telah juga menewaskan adik Raja Ompu Gumara

Nommensen juga memberitakan Firman Tuhan pada malam harinya. Besok, paginya, setelah menyampaikan Firman Tuhan, Nommensen melanjutkan perjalanan, dan sampai sekitar pkl 1 Siang di Sigotom. 

Penduduk Sigotom tidak begitu terbuka akan kehadiran Nommensen datang dari arah kampung musuh mereka. 

Pagi-pagi betul, dengan cepat robongan Nommensen berangkat dari Sigotom dengan menuruni dan menaiki Dolok Sitarindak menuju Silindung

Setelah sampai di sebuah perbukitan, antara Lumbanbaringin, Sitompul dan Pansur Napitu mereka beristirahat. 

Dari sana Nommensen dengan jelas memandang lembah Silindung dengan hamparan sawah, rumah-rumah penduduk. Di tempat inilah Nommensen berbicara dengan Tuhan dalam doanya: 

Mangolu manang mate pe ahu, sandok di bangso on na hinongkopMu ma ahu maringanan, pararathon hataM dohot harajaonMu. 

(Untuk mengenang peristiwa ini telah dibangun monumen yang diresmikan pada tahun 1993 oleh Bupati Tapanuli Utara, Lundu Panjaitan).

Tturun dari bukit, mereka melewati onan Sipinggan menuju Hutagalung. 

Di Hutagalung Inaina rombongan Nommensen telah disambut kerumunan banyak orang, anak-anak dan dewasa yang datang mengolokolok Nommensen. 

Setelah sampai di perkampungan penduduk, seorang yang cakap berbahasa Melayu, Ompu Tarida Hutagalung bertanya kepada Nommensen, Tuan mau pigi kemana ? Nommensenpun menjawab akan menuju Saitnihuta. 

Dengan tangan terbuka, Ompu Tarida mendampingi Nommensen ke Saitnihuta, dan mengusir anak-anak yang mengikuti dan mengolokolok Nommensen. 

Pada kunjungan pertama ini, di Saitniuta, Nommensen diterima oleh Raja Ompu Tunggul, keturunan Ompu Somuntul. 

Pada kunjungan pertama ini, Nommensen sudah bertemu dengan Raja Pontas Lumbantobing, dan menyempatkan mengunjungi Nommensen di Sait ni Huta. 

Dari sini Nommensen kemudian kembali ke Sipirok untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelayanannya. Pergi berkunjung ke Sipoholon. Banyak juga para penduduk desa pertengahan tahun berikutnya, 1864 Nommensen dengan membawa semua perlengkapannya berangkat kembali ke Silindung dan tiba pada tanggal 7 Mei 1864. 

Nommensen kembali ke rumah Raja Ompu Tunggul, tetapi dia ditolak. Tawaran datang dari Raja Aman Dari, keturunan Ompu Sumurung, melalui utusannya untuk tinggal di lumbung padinya Tawaran ini melegakan hati Nommensen dan bergegas segera menuju kampung Raja Aman Dari. 

Pada tanggal 20 Mei Nommensen membuka pargodungan Huta Dame di Saitnihuta dan memulia membangun rumah kediamnnya di sana yang selesai pada pertengahan Juli 1864 Tanah ini merupakan tanah perbatasan tanah keturunan Ompu Somuntul dan Ompu Sumurung Sebelumnya, pada tanggal 29 Mei Nommensen membuka kebaktian Minggu pertama di Huta Dame. 

Pargodungan ini sekaligus menjadi sekolah, dan tempat penampungan para keluarga Kristen yang diusir dari kampong mereka. Beberapa orang penduduk dan raja-raja di Silindung sudah mulai membuka komunikasi dengan Nommensen. 

Tetapi banyak juga yang berusaha untuk menghalangi Nommnsen tinggal di Silindung. 

Bahkan telah terjadi kata sepakat di antara beberapa raja untuk mempersembahan Nommensen kepada sombaon "Siatas Barita" pada suatu pesta pemujaan besar pada tanggal 23 September 1864 bertempat di onan Sitahuru. 

Ribuan orang datang mengikuti pesta tersebut, termasuk undangan dari Pohan dan Toba. 

Nommensen hadir di pesta tersebut, walaupun sudah banyak yang meminta dan membujuknya untuk tidak hadir, karena ancaman pembunuhan oleh raja-raja yang membencinya. 

Biasanya pesta akan berakhir dengan perang antar kampung. 

Tetapi, hujan deras dan angin yang sangat kencang datang menyurutkan perang yang sebelumnya telah dipancing penduduk Hutabarat dengan suara tembakan bedil. 

Pestapun berakhir, dan dengan lega hati Nommensen menyadari perlindungan Tuhan yang menjagainya di lembah kematian. 

Bisa saja perang akan dijadikan "siasat" untuk mempersembahkan Nommensen ke sombaon Siatas Barita. (Pada saat ini Hariara, pohon beringin di onan Sitahuru masih berdiri kokoh sebagai "saksi bisu" peristiwa sejarah tersebut).

Pada 16 Pebruari 1866, Johansen tiba di Sibolga bersama nona Carolina Margaretha Gutbrodt, tunangan Nommensen Bersama 25 orang penduduk Silindung, Nommensen berangkat ke Sibolga untuk menjemput tunangannya dan segera menikah di Sibolga pada tanggal 16 Maret 1866.

 Selama sebulan di Sibolga, Nommensen mendapat berita dari Huta Dame, bahwa sedang terjadi perlawanan dan ancaman pernbakaran Huta Dame dari orang-orang pembenci Nommensen. 

Setibanya di huta Dame, Nommensen dapat meredakan situasi dengan menjumpai raja-raja Silindung. 

Bahkan pada akhirnya, masyarakat Silindung menyambut kedatangan istri Nommensen dengan adat istiadat suku Batak, mamio marsipanganon, yaitu  mengundang makan keluarga baru itu. 

Berselang beberapa bulan kemudian, Raja Sisingamangaraja ke XI tiba di Sipoholon dan mengancam akan membumihanguskan Huta Dame dengan banyak pasukan. 

Tetapi ancaman itu tidak terlaksana karena segera saja Sang raja meninggalkan Silindung karena persoalan pribadi yang terjadi.

Pada tahun 1867 telah berdiri "pargodungan" kedua di Silindung.yaitu huta Zoar, Pansurnapitu yang dilayani oleh Johansen. 

Johansen sendiri, sering dijuluki sebagai guru bolon, karena kecakapannya mengajar. 

Dia bersama Nommensen dan Tuan Mohri, missionaris di Lumbansoit membuka "sikkola mardalandalan" sebelum dibukanya seminarium di Pansurnapitu. Johansen lahir 9 Nopember 1839 di Weddingsteed, Jerman. 

Pada 2 Februari 1870 menikah dengan Marie Sommer di Sibolga. Johansen bergumul selama 12 tahun (1982-1894) untuk menerjemahkan dan menyalin Bibel Perjanjian Lama ke dalam bahasa Batak Toba. 

Johansen melayani di Silindung selama 33 tahun dan telah mendidik sekitar 200 guru dan 25 pendeta Batak hingga akhir hayatnya 11 Januari 1898 (makamnya saat ini berada di pargodungan HIKBP Pansurnapitu).

Sejalan dengan pertumbuhan Gereja di Silindung, pada tahun 1877 telah dibuka seminarium di Pansurnapitu dengan murid berjumlah 12 orang. 

Lulusan sekolah ini dijadikan menjadi guru Injil dan Guru Sekolah. (Di kemudian hari, pada tahun 1901, sekolah ini dipindahkan ke Sipoholon). Pada masa ini, beberapa raja di Silindung sudah dibaptis dan raja yang paling berpengaruh adalah Raja Pontas Lumbantobing. 

Peran Raja Pontas Lumbantobing, telah juga berdampak luarbiasa bagi perkembangan Injil. Dia selalu tampil mendampingi Nommensen dalanı pelayanan di Silindung. (makam Raja Pontas Lumbantobing berdiri di depan gereja HKBP Pearaja).

Pada tahun 1872, Nommensen memulai pembangunan rumah dan gereja di HKBP Pearaja. Gereja baru ini diresmikan pada tanggal 10 September 1873. 

Nommensen tinggal di Pearaja sampai tahun 1882, yang kemudian demi kemajuan penginjilan, pada tahun 1882 pindah ke Balige, kemudian tinggal menetap di Sigumpar sampai akhir hayatnya, pada 23 Mei 1918.

Bagikan:

Posting Komentar

Top Ads

Middle Ads 1

Bottom Ads